Rabu, 11 Maret 2026

Ulasan Novel Gadis Minimarket: Terjebak dalam Standar 'Normal' Masyarakat

Awalnya, saya membaca Gadis Minimarket karya Sayaka Murata ini sebagai bentuk pelarian positif. Setelah menghapus sebuah aplikasi media sosial berbasis video pendek, saya butuh kegiatan yang lebih bermanfaat untuk mengisi waktu. Seperti biasa meminjam buku ini di platform perpustakaan digital milik pemerintah. Alasan saya membaca buku ini cukup sederhana yaitu sepertinya saya pernah melihat buku ini di suatu konten. Impresi saya, buku yang pernah dibahas dalam sebuah konten pasti punya sesuatu yang menarik dan tugas saya untuk mencari itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung meminjam buku ini.

Sekilas Tentang Buku

Judul: Gadis Minimarket
Judul Bahasa Inggris: Convenience Store Woman
Judul Bahasa Jepang: Konbini Ningen
Karya: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 160 hlm.
Edisi: Digital 2020

Novel ini menceritakan kehidupan Keiko Furukura, perempuan berusia 36 tahun yang melajang dan bekerja paruh waktu di sebuah minimarket. Sedari kecil Keiko merasa bahwa ia tidak sama dengan kebanyakan orang dalam hal pemikiran. Pemikiran ini bertahan hingga ia dewasa. Meski begitu, ia merasa dapat hidup sebagai orang normal ketika bekerja di minimarket. Di sana, buku panduan pegawai menjadi kompasnya dalam bertindak sehingga ia bisa membaur dengan masyarakat terlihat seperti orang normal. Namun, zona nyamannya mulai terusik ketika ia bertemu dengan Shiraha, seorang pria yang juga dianggap "tidak normal" oleh standar lingkungan sekitarnya.

Jujur saja, ketika mulai membaca buku ini saya buta alias nggak baca sinopsis dan nggak tau gambaran cerita novel ini. Makanya ketika mulai membaca, saya sempat bertanya-tanya, apakah novel ini beraliran psikologis? Lambat laun, saya menyadari bahwa penulis sedang mengajak kita menyelami isi kepala orang-orang yang dicap "tidak normal" oleh masyarakat. "Tidak normal" di sini merujuk pada mereka yang tidak memenuhi standar atau ekspektasi umum. Dalam konteks masyarakat Jepang di novel ini, usia matang tetapi masih lajang dan tidak punya pekerjaan tetap adalah wujud nyata ketidaknormalan tersebut. Persis seperti Keiko dan Shiraha.

Menarik melihat bagaimana karakter Keiko berkembang, meskipun saya merasa ada beberapa titik di mana proses pengambilan keputusan pentingnya kurang dieksplorasi. Misalnya, bagaimana pergolakan batin Keiko saat harus berkompromi melepaskan pekerjaannya tidak dijelaskan secara rinci. Di sisi lain, dinamika tokoh pendukung yang ikut berubah merespons perkembangan Keiko patut diapresiasi.

Kekuatan utama novel ini terletak pada kritik sosial terhadap masyarakat Jepang. Murata dengan cerdas menyentil bagaimana masyarakat sering kali memaksakan stereotip. Jika kenyataan seseorang tidak sesuai dengan standar umum, orang-orang di sekitarnya akan berasumsi dan mengarang cerita sendiri agar seolah-olah sesuai dengan stereotip tersebut. Kemudian, dari sini kita belajar sebuah realitas pahit, betapa banyak orang rela mengorbankan jati diri mereka hanya demi diakui sebagai "orang normal" dan memenuhi ekspektasi sosial.

Meski begitu, buku ini bukan tanpa celah di mata saya. Pada bagian awal, deskripsinya terasa terlalu mendetail sehingga alurnya terkesan lambat dan sempat membuat saya ragu untuk lanjut membaca. Selain itu, ending-nya terasa sedikit menggantung. Walaupun pembaca diberi ruang untuk menafsirkan akhir cerita yang cukup melegakan, bagi saya pribadi, itu belum cukup memuaskan rasa penasaran. Sebagai pembaca, saya berharap ada penyelesaian yang lebih gamblang mengenai nasib tokohnya.

Secara keseluruhan, saya sangat merekomendasikan novel ini, khususnya bagi pembaca dewasa yang mungkin sedang mencari identitas diri atau tengah meragukan pilihan hidupnya. Membaca novel ini cukup menampar saya (yang situasinya sedikit banyak relate dengan Keiko) bahwa kita tidak seharusnya mengorbankan kebahagiaan pribadi hanya demi memenuhi tuntutan lingkungan. Pada akhirnya, mensyukuri apa yang membuat kita nyaman adalah hal yang paling penting.

Sekian ulasan dari saya! Buat yang udah baca, gimana nih tanggapannya soal karakter Keiko? Dan buat yang belum, ulasan ini bikin tertarik buat baca juga nggak? Yuk, ramaikan kolom kementarnya, saya pengen tau pendapat kalian! :D


Minggu, 15 Juni 2025

Pengalaman Pasang Behel di RSKGM Bandung Part 2: Rontgen, PR, dan Braket Pertama!

Setelah sesi konsultasi awal dengan dokter ortodontis di RSKGM Bandung, saya langsung diberikan rujukan untuk melakukan rontgen cephalometric dan panoramic sebagai langkah awal perawatan. Tanpa menunggu lama, saya langsung membuka Google dan mencari tempat rontgen yang bisa memproses hasil dengan cepat. Akhirnya, saya memutuskan untuk rontgen di Laboratorium Pramita.

Biayanya memang cukup terasa, yaitu Rp750.000 untuk kedua jenis rontgen tersebut. Tapi sebenarnya, kalau teman-teman ingin yang lebih terjangkau, bisa coba rontgen langsung di RSKGM Bandung atau RSGM UNPAD. Karena saya waktu itu lebih mengutamakan kecepatan proses, jadi saya pilih di Pramita saja.

Begitu hasil rontgen di tangan, saya langsung buat janji temu lagi dengan dokter. Setelah beliau memeriksa rontgen saya, saya dapat kabar baik — saya bisa mulai pasang behel awal Februari 2023! Tapi ada beberapa PR yang harus saya selesaikan dulu sebelum proses pemasangan:
  • Menambal gigi yang berlubang
  • Mencabut gigi double, yaitu gigi susu yang belum dicabut sejak kecil dan kini "dempetan" dengan gigi dewasa

Setelah dua hal itu beres, tepatnya pada 1 Februari, saya melakukan cetakan gigi, dan seminggu kemudian, 7 Februari, saya resmi memasang braket untuk rahang atas. Kenapa rahang atas dulu? Karena menurut dokter, gigi atas saya bisa dimundurkan dan dirapikan terlebih dahulu tanpa harus menunggu atau mengganggu posisi rahang bawah. Penjelasannya cukup meyakinkan dan membuat saya tenang.

Oh ya, di hari pemasangan braket itu, saya langsung membayar Rp6.000.000 untuk seluruh proses pemasangan behel rahang atas dan bawah. Menurut saya, biaya ini tergolong murah banget untuk perawatan dengan dokter spesialis ortodontis di tahun 2023. Inilah salah satu alasan utama saya memilih RSKGM Bandung.

Dua bulan setelah pemasangan rahang atas, akhirnya saya memasang behel untuk rahang bawah. Kali ini, saya hanya membayar Rp125.000, karena biaya pemasangan rahang bawah sudah termasuk di pembayaran awal. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, “Kenapa jaraknya sampai dua bulan, ya?”

Ternyata, dokter menjelaskan bahwa gigi depan saya cukup besar, dan pergerakannya termasuk lambat dibandingkan orang kebanyakan. Tapi tenang saja, itu hal yang normal kok. Setiap orang punya progres berbeda saat menjalani perawatan behel, tergantung kondisi gigi masing-masing. Jadi, buat teman-teman yang nanti mengalami hal serupa, nggak usah khawatir, ya!

Sekarang, setiap kali kontrol, saya hanya membayar sekitar Rp125.000. Biaya bisa bertambah kalau ada pergantian kawat (saya lupa rincian pastinya), atau jika ada penambahan rubber bands, yang biayanya sekitar Rp20.000 per jenis. Jadwal kontrol biasanya saya lakukan setiap 3 hingga 4 minggu sekali, tergantung arahan dari dokter.

contoh rubber bands

Untuk cerita selanjutnya, saya akan bahas bagaimana rasanya hari pertama memakai behel, jadi stay tuned yaa! Kalau teman-teman ada pertanyaan soal proses pasang behel di RSKGM Bandung, boleh banget tulis di kolom komentar. Siapa tahu, pengalaman saya bisa jadi referensi buat kamu juga 😊

Kamis, 12 Juni 2025

Ulasan Novel Resign! karya Almira Bastari: Bacaan Ringan yang Menghibur di Tengah Antrian Rumah Sakit

Identitas Buku:
Judul: Resign!
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2018

Setelah sebelumnya membaca Cinta Lama karya Puthut EA dan merasa puas dengan kesederhanaan serta kedalaman ceritanya, saya memutuskan untuk membuka halaman pertama Resign! karya Almira Bastari. Awalnya, saya tidak menaruh ekspektasi tinggi—hanya ingin mencari bacaan ringan sebagai teman menunggu antrean di rumah sakit. Namun, pengalaman membaca buku ini ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan.

Saya baru membaca sekitar 50 halaman ketika nama saya dipanggil oleh perawat, dan bacaan ini pun terpaksa terhenti. Beberapa hari kemudian, saat kembali kontrol ke rumah sakit, saya teringat belum menyelesaikannya. Saya lanjut membaca sembari menunggu giliran. Tanpa disangka, saya begitu tenggelam dalam cerita hingga tidak sadar nama saya dipanggil beberapa kali oleh perawat untuk mengonfirmasi sesuatu. Saat itulah saya sadar: buku ini berhasil membawa saya masuk ke dalam dunianya.

Resign! menyajikan kisah dengan premis yang cukup sederhana—cerita “benci jadi cinta”—namun dikemas dengan pendekatan slow burn yang menarik. Almira Bastari dengan cermat membangun dinamika hubungan antar tokoh secara perlahan, sehingga pembaca bisa menikmati perkembangan emosi dan konflik tanpa terburu-buru. Meskipun alurnya cenderung mudah ditebak, saya tetap terdorong untuk menyelesaikannya karena penasaran dengan perjalanan para tokohnya, bukan semata-mata akhirnya.

Di beberapa bagian, mungkin ada detail cerita yang terasa kurang padat atau kurang terjelaskan, tetapi hal itu tidak mengganggu kenikmatan membaca secara keseluruhan. Justru kesederhanaan dan gaya bertuturnya yang ringan membuat novel ini cocok untuk pembaca yang sedang mencari hiburan, tanpa perlu menganalisis plot yang rumit atau makna simbolik yang dalam.

Lebih dari itu, Resign! terasa relevan dengan kehidupan para pekerja kantoran yang hampir setiap hari bercanda ingin mengundurkan diri, tapi tetap bertahan demi rutinitas dan tanggung jawab. Cerita ini ringan, menyenangkan, dan bisa membuat senyum-senyum sendiri—cocok dibaca saat sedang menunggu, ingin santai sejenak, atau butuh selingan dari bacaan yang berat. Dan siapa tahu, seperti saya, kamu pun akan hanyut dalam cerita sampai lupa sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit.

Kalau kamu sudah pernah baca Resign! juga, yuk bagikan pendapatmu di kolom komentar—apakah kamu juga sempat senyum-senyum sendiri seperti saya? Atau malah punya tokoh favorit yang bikin nggak rela ceritanya cepat selesai?

Dan kalau kamu punya rekomendasi bacaan ringan lain yang cocok untuk menemani antrean di rumah sakit atau saat butuh hiburan singkat, saya juga sangat terbuka! Silakan tulis judul bukunya di kolom komentar. Siapa tahu bisa jadi bacaan saya berikutnya saat kontrol selanjutnya. 😊

Senin, 02 Juni 2025

Ulasan Novel Cinta Lama Karya PUTHUT EA

  

Identitas Buku:
Judul: Cinta Lama
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2020

Saya mulai tertarik membaca karya Puthut EA setelah menikmati cerpennya yang berjudul Sesaat Sebelum Berangkat. Cerpen itu begitu sederhana, namun sarat makna dan berhasil menyentuh sisi emosional saya tanpa perlu berpanjang lebar. Karena itulah, ketika menemukan Cinta Lama, saya langsung penasaran dan ingin tahu bagaimana Puthut EA bercerita dalam bentuk novel.

Novel Cinta Lama sangat cocok dibaca dalam situasi santai seperti saat menunggu antrean, duduk di kedai kopi, atau ketika ingin mengisi waktu luang. (Saya membaca novel ini ketika menunggu antrean di rumah sakit) Buku ini bisa selesai dibaca dalam sekali duduk, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam. Salah satu kekuatan novel ini terletak pada gaya berceritanya yang khas: minim narasi, namun sarat dialog. Dialog-dialog antar tokohnya terasa intens, hidup, dan membawa pembaca langsung ke dalam suasana batin para karakter tanpa harus dijelaskan secara panjang lebar. Narasinya singkat, tetapi cukup untuk membuat kita paham tentang latar, konflik, dan emosi yang bergulir.

Ilustrasi dalam novel ini juga menjadi nilai tambah. Gaya ilustrasinya menggambarkan suasana 'dewasa lama'—seperti orang-orang berusia akhir 30-an atau 40-an yang sedang mengenang masa lalu, menimbang keputusan, atau sekadar berbincang sambil menyeruput kopi. Vibes-nya hangat dan tenang, namun tetap menyimpan gejolak yang khas dari cinta yang datang kembali setelah waktu yang lama.

Secara keseluruhan, Cinta Lama adalah novel sederhana yang jujur dan menyentuh. Bagi saya, ini bukan hanya soal kisah cinta, tetapi juga tentang refleksi, keheningan, dan bagaimana manusia memaknai pertemuan dan masa lalu. Puthut EA berhasil menyampaikan semuanya dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Saya suka kesederhanaan yang tidak sederhana dari novel ini.

Berikut sinopsis singkat buku ini yang saya kutip dari platform ipusnas.
Seorang lelaki berusaha menghindari pertemuan dengan mantan kekasihnya selama 20 tahun. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di perasaannya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui mantan kekasihnya.
Apakah ternyata dia masih memendam rasa cinta, atau hanya ilusi perasaan belaka?

Minggu, 17 Desember 2023

Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP Part 2

Setelah memfinalisasi pendaftaran, saya menunggu pengumuman administrasi sambil mempelajari soal-soal tes TPA  dan cara menyelesaikannya dari buku dan youtube. Beberapa minggu kemudian, hasil seleksi administrasi diumumkan. Alhamdulillah saya lulus, saya semakin giat belajar TPA dan mempersiapkan diri untuk tes bakat skolastik (TBS), mirip sepesrti tes SKD CPNS). Saya sering melakukan simulasi mandiri, mengerjakan soal yang ada di buku dalam waktu yang terbatas. Jika waktunya habis saya harus berhenti mengerjakan soalnya. Saya kemudian menganalisis kelemahan saya dan berlatih lebih banyak pada soal-soal yang saya anggap sulit. Itu terus berlangsung sampai pengumuman TBS dilaksanakan. Tiga atau dua hari sebelum tes dilaksanakan saya sudah berhenti belajar, paling yang saya lakukan hanya menonton video yootube tentang tips dan trik yang bisa dilakukan saat tes TBS berlangsung. 

Pada hari TBS saya mempersiapkan diri lebih awal, sekitar satu jam sebelum jadwal, saya sudah di depan laptop, sambil menunggu saya makan dan minum yang cukup agar ketika ujian berlangsung saya tidak izin ke belakang. Sedikit tips dari saya, ketika TBS, teman-teman jangan gugup anggap saja sedang mengerjakan latihan biasa, jika teman-teman ragu dengan jawabannya, tetap isi dengan jawaban yang teman-teman anggap paling benar saat itu. Kemudian catat nomor soal yang teman-teman anggap ragu itu di kertas buram yang teman-teman gunakan. Nanti, setelah semua soal selesai dibaca dan diisi, teman-teman bisa mengecek kembali soal dan jawaban yang dianggap ragu tersebut. Satu lagi, karena TBS online dan kamera laptop menyala, usahakan tetap fokus melihat soal, jangan terlalu sering melihat kamera dan bercermin di kamera, merapikan jilbab untuk yang perempuan atau rambut untuk yang laki-laki, jangan pedulikan ekspresi teman-teman di kamera fokus ke soal saja ya. Setelah TBS selesai, tidak usah coba cari jawaban yang benar karena itu hanya akan menambah pikiran teman-teman. Saran saya, lebih baik teman-teman mulai persiapkan diri untuk Tes Substansi (wawancara). 

Saya dulu mempersiapkan diri untuk tes wawancara dengan mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dalam wawancara, itu sudah sangat banyak di internet dan juga youtube. Kemudian, saya mencoba menulis garis besar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jawabannya tentu harus sesuai dengan esai yang telah kita tulis. Di samping itu, setiap malam saya sering mendengar simulasi wawancara teman-teman peserta yang lain. Saya tidak pernah ikut simulasi, saya hanya menjadi pendengar di forum tersebut karena jujur dulu saya tidak berani dan percaya diri dengan esai dan kemampuan saya setelah mendengar capaian-capaian teman-teman peserta yang lain yang luar biasa. Pewawancaranya saat itu adalah awardee LPDP yang sukarela meluangkan waktu mereka untuk membantu para peserta, saya sangat mengapresiasi hal itu. Setelah simulasi biasanya kakak-kakak awardee LPDP ini akan memberikan masukan terhadap teman peserta yang sudah diwawancarai, saya mencatat masukan itu dan mencoba menerapkannya pada diri saya. Oh iya, saya juga sering praktik sendiri, saya bertanya kepada diri sendiri dan menjawabnya sendiri sambil direkam. Setelah itu saya koreksi sesuai masukan-masukan yang telah saya catat sebelumnya. Di tengah persiapan wawancara, pengumuman TBSpun keluar, Alhamdulillah saya lulus. Nilai saya saat itu tidak terlalu tinggi tetapi lebih dari cukup sehingga bisa dinyatakan lulus seleksi.

Sama seperti seleksi TBS, seleksi substansi ini juga dilakukan dalam beberapa hari. Kebetulan saya mendapat jadwal di hari kedua. Jadi saya cukup banyak membaca curhatan teman-teman yang telah selesai wawancara. Di satu sisi, curhatan teman-teman ini dapat kita jadikan pelajaran tetapi di sisi lain hal ini dapat menjadikan kita lebih khawatir dan waspada. Jika teman-teman takut merasa khawatir lebih baik grup-grup terkait tidak usah dibaca dulu ya. 

Sekarang giliran saya, seperti seleksi TBS saya sudah duduk di depan laptop satu jam sebelum jadwal yang ditetapkan. Hari itu saya diwawancarai oleh 2 orang perempuan (1 akademisi dan 1 psikolog). Pertanyaan yang diajukan oleh akademisi berkisar antara rencana studi, alasan melanjutkan studi, dan pertanyaan lain terkait perkuliahan. Jika saya amati, tugas akademisi di sini adalah untuk melihat seberapa yakin dan mampu kita untuk melanjutkan studi. Jadi saran saya, teman-teman perlu meyakinkan pewawancara bahwa teman-teman bisa menyelesaikan studi tepat waktu dan sudah memiliki rencana yang jelas selama studi berlangsung. 

Selanjutnya, wawancara dengan psikolog. Selama wawancara saya ditanyai pertanyaan-pertanyaan terkait sifat dan sikap saya. Psikolog mencoba melihat apakah aplikasi pendaftaran saya diisi dengan jujur atau tidak. Di samping itu, psikolog mencoba menggali seberapa mampu kita untuk menyelesaikan masalah dan mengelola emosi. Sedikit tips dari saya, tetaplah jadi diri sendiri ketika mengisi form pendaftaran, coba kenali dan gali potensi yang ada dalam diri kita serta tetaplah percaya diri ketika menjawab pertanyaan pewawancara. 

Selama wawancara cobalah untuk tetap merendah dan tidak sombong, perhatikan diksi ketika menjawab pertanyaan pewawancara, jangan jadikan diri teman-teman sebagai pusat, tetapi jadikanlah orang-orang di sekitar teman-teman sebagai alasan atas tindakan baik yang teman-teman lakukan. Kemudian, cobalah menjawab pertanyaan dengan langsung, jangan berbelit-belit. Cukup jawab apa yang ditanyakan dan berikan  alasan yang mendukung jika dibutuhkan. 

Mungkin sekian cerita pengalaman saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Semoga teman-teman dapat mengambil manfaat dari cerita ini. Jika teman-teman berpikir jalan saya sangat lancar, sebenarnya jalan  saya pun berbatu hanya saja tidak saya ceritakan di sini. Jika teman-teman memiliki pertanyaan seputar beasiswa LPDP jangan segan untuk bertanya ya.




 

Selasa, 05 Desember 2023

Pengalaman Seleksi Beasiswa LPDP: Tuhan Punya Rencana Terbaik Part 1

 Dalam postingan kali ini, saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya selama mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP tahun 2021 lalu. Saya masih ingat seleksi tahun 2021 itu merupakan seleksi beasiswa LPDP pertama setelah covid. Semua tahapan seleksinya dilaksanakan secara daring. Sebelum bercerita tentang pengalaman saya. Saya ingin berbagi sedikit alasan saya memutuskan untuk kuliah lagi dan coba daftar LPDP. 

Setelah kulaih S1, ada teman saya yang menyebutkan akan lanjut kuliah dengan beasiswa LPDP. Namun saat itu saya belum tau apa itu LPDP, bagaimana sistemnya, apa syaratnya dll. yang menjadi fokus saya setelah lulus saya harus ikut seleksi CPNS. Dalam pikiran saya, cara tercepat untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri adalah dengan menjadi seorang PNS. Pada bulan November tahun 2019 Seleksi CPNS dibuka. Saya mempersiapkan diri dengan cukup baik, saya belajar dari buku, youtube, dan juga dari teman-teman saya. Singkat cerita, saya lulus seleksi administrasi, dan juga SKD. Karena pandemi Covid19, seleksi SKB yang harusnya dilaksanakan bulan Maret 2020 diundur ke bulan September 2020. Setelah penantian panjang itu, saya akhirnya tes SKB. Sama seperti tes SKD, tes SKB dilaksanakan di Padang Panjang. Ketika selesai tes, saya melihat skor tes saya dan melakukan kalkulasi secara mandiri. Sayapun menyadari bahwa saya tidak lulus. Saya tidak tahu apa yang saya rasakan saat itu, di satu sisi saya merasa sedih karena apa yang telah saya usahakan selama ini tidak membuahkan hasil, di sisi lain saya merasa lega karena jika saya lulus saya akan terikat dan harus terbiasa dengan rutinitas sekolah. Terikat di sini bukan berarti tidak bisa berkembang ya. Hanya saja waktu itu saya berpikir, jika saya lulus waktu saya untuk mencoba hal baru akan terbatas. Kakak saya juga mengatakan hal sama, mungkin ketidaklulusan ini membuat saya bisa mencoba banyak hal yang sebelumnya belum pernah dicoba, dan memberi saya banyak kesempatan untuk mencari pengalaman di banyak tempat. Saya setuju dengan itu.

Masih di hari yang sama dan seragam tes belum diganti, saya duduk di depan komputer mencari daftar beasiswa untuk S2. Saya mencoba mengalihkan perasaan saya dengan hal itu. Konon, saat terbaik untuk bangkit adalah saat terburuk di hidupmu. Saya pun mencatat beberapa beasiswa yang mungkin bisa saya ikuti dan salah satu beasiswa itu LPDP. Sambil menunggu beasiswa-beasiswa itu buka, saya mengajar di salah satu sekolah menengah pertama di kabupaten saya. Saya mendistraksi diri saya dengan video orang-orang yang berkuliah dengan beasiswa. Harapannya, agar saya percaya saya juga bisa seperti orang-orang tersebut.

Akhirnya bulan Mei 2021 beasiswa LPDPpun buka setelah hiatus karena pandemi Covid. Saya mulai bergabung dengan grup-grup pencari beasiswa lpdp di telegram dan membaca berbagai tips agar bisa lolos seleksi beasiswa di internet. Di sela-sela kesibukan mengajar, saya menyiapkan berkas-berkas persyaratan beasiswa LPDP, seperti surat rekomendasi, dan hasil tes kemampuan bahasa Inggris.

Saya meminta surat rekomendasi kepada pembimbing skripsi saya waktu kuliah S1 dan kepala sekolah tempat saya mengajar. karena saya dan kepala sekolah tempat saya mengajar hampir bertemu setiap hari, proses pembuatan surat rekomendasi ini berjalan dengan cepat dan lancar. Yang menarik adalah ketika saya meminta surat rekomendasi kepada pembimbing saya, beliau meminta saya untuk mengirimkan transkrip nilai S1 dan sertfikat yang saya dapatkan selama kuliah S1. Jujur, saya adalah tipe mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Jadi sertifikat yang saya dapatkan di jenjang S1 sangat sedikit. Saya hanya mengikuti satu organisasi di kampus dan organisasi tersebut hanya aktif ketika akan diadakannya pemilihan ketua himpunan mahasiswa. Setelah ketua hima terpilih, kami tidak memiliki kegiatan yang lain. Jadi saya hanya punya satu sertifikat organisasi kampus. Selebihnya apa? Beruntungnya ketika S1 saya bertemu dengan teman-teman yang baik dan hebat. Mereka banyak mengikuti lomba menulis. Karena berteman dengan mereka saya pun mengikuti lomba-lomba yang mereka ikuti. Alhasil saya mendapat cukup banyak sertifikat dari lomba-lomba menulis itu. Sertifkat-sertfikat itulah yang saya kirimkan kepada dosen pembimbing saya. Awalnya saya sedih, ketika beliau meminta saya mengirimkan sertifikat-sertifikat itu, saya bertanya "apakah beliau tidak percaya dengan kemampuan saya?". Namun, setelah saya pikir lagi, saat memberikan surat rekomendasi, beliau mempertaruhkan nama baik beliau, dan tentu beliau butuh bukti bahwa saya layak untuk direkomendasikan. 

Jika saya bisa memberi tips untuk teman-teman yang akan meminta surat rekomendasi, berikut beberapa tips dari saya. Pertama, buat janji temu seminggu atau tiga hari sebelum jadwal bertemu. Hal ini untuk memastikan bahwa beliau bersedia bertemu kita atau tidak. Kedua, walaupun jauh tetap usahakan bertemu langsung dengan pemberi rekomendasi. Di samping untuk sopan santun, hal ini juga dapat membuktikan kesungguhan teman-teman. Saya menempuh 8 jam perjalanan dengan mobil untuk bertemu beliau di kampus. Ketiga, sabar. Ketika meminta surat rekomendasi banyak saya temui teman-teman yang tidak sabar. Mereka ingin pemberi rekomendasi memberikan surat rekomendasi secepatnya. Satu hal yang perlu ditanamkan dalam diri adalah pemberi rekomendasi itu memiliki kehidupan sendiri dan tidak mungkin beliau sengaja menunda memberikan surat rekomendasi kecuali beliau sedang sibuk. Keempat, mintalah surat rekomendasi jauh-jauh hari bahkan jika bisa sebelum pendaftaran beasiswa dibuka, mungkin seminggu atau dua minggu sebelum beasiswa dibuka.

Selanjutnya hasil tes kemampuan berbahasa Inggris. Saya bersyukur sekali untuk ini. Jujur ketika lulus S1 skor TOEFL saya hanya 403. Skor ini sangat jauh dari dari persyaratan minimum LPDP. Karena saya tahu kelemahan saya dari awal, saya selalu belajar bahasa Inggris menggunakan aplikasi Duolinggo jauh sebelum saya lulus S1 dan terus belajar sampai sekarang. Beruntungnya, lagi. karena saya alumni beasiswa bidikmisi, LPDP memberikan keringanan. Saya bisa menggunakan sertifikat TOEFL ITP atau Duolinggo English Test (pertama kalinya LPDP mengizinkan ini). Karena saya sudah cukup terbiasa dengan aplikasi Duolinggo, saya pun mengambil tes resminya. Saya harus membayar 45 dolar atau waktu itu sekitar Rp650.000,-. Alhamdulillah setelah menunggu dua minggu, skor saya keluar dan memenuhi skor minimal yang diminta LPDP. 

Berdasarkan pengalaman ini, saya belajar bahwa tidak ada yang sia-sia untuk hal-hal positif yang telah kamu bangun. Akhirnya, surat rekomendasi saya dapatkan seminggu sebelum pendaftaran ditutup begitu juga hasil kemampuan bahasa Inggris saya. Saya baru mencari surat rekomendasi dan mengikuti tes bahasa Inggris setelah pendaftaran beasiswa buka, dan alhamdulillah dokumen-dokumen ini didapatkan sebelum pendaftaran tutup dan hasilnya sesuai ekspektasi. Bagaimana jika tidak? Oleh karena itu saya sarankan untuk teman-teman mengusahakan dokumen ini jauh-jauh hari sebelum pendaftaran beasiswa dibuka.

Yang menjadi PR terbesar saya adalah esai kontribusi untuk negeri karena saya tidak tahu seperti apa esai itu, saya harus membaca banyak esai dan mennonton video para awardee lpdp terlebih dahulu agar bisa menyusun esai tersebut. Saya masih berkutat dengan esai di hari terakhir pendaftaran, saya sangat khawatir tidak bisa menyelesaikan esai itu tepat waktu. Namun, sekitar pukul 10 malam saya mendapat kabar bahwa pendaftaran diperpanjang selama 5 hari. Saya merasa Tuhan membantu saya malam itu. Akhirnya esai selesai ditulis H-2 penutupan yang sesungguhnya. Saya memeriksa kembali semua berkas yang telah saya unggah sebelum akhirnya menfinalisasi pendaftaran.

Jika teman-teman ingin membaca esainya bisa klik ini ya. Jika teman-teman ingin membaca part 2 bisa klik ini ya.


Rabu, 22 November 2023

Esai Beasiswa LPDP: RENCANA KONTRIBUSIKU UNTUK INDONESIA

Tahun 2021 lalu saya memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa lpdp. Menulis esai kontribusiku untuk negeri merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh para pendaftar. Saya, yang tidak tahu harus menulis apa dalam esai saya, merasa sangat terbantu oleh awardee lpdp yang mengunggah esainya di internet. Sedikit banyak saya belajar, bagaimana cara menulis esai yang baik, dan esai yang seperti apa yang diinginkan oleh lpdp. Saya harap dengan mengunggah esai ini di sini, para pendaftar beasisiwa lpdp lainnya juga merasakan hal yang sama. Sedikit tips dari saya, saat menulis esai, jadilah diri sendiri. Semangat untuk para pejuang beasiswa.

RENCANA KONTRIBUSIKU UNTUK INDONESIA

Oleh: Riska Mulyani

Nama saya Riska Mulyani, saya lahir dan dibesarkan di Muaralabuh sebuah kota kecil di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Sewaktu kecil saya sangat suka mendengar cerita dari ayah saya. Cerita[1]cerita yang beliau sampaikan beragam, mulai dari bagaimana perilaku saya waktu kecil, kehidupan keluarga kami sebelum saya lahir, sampai sejarah Indonesia yang terdengar seperti dongeng yang menyerukan. Ayah saya adalah guru sejarah terbaik keluarga kami meski profesi beliau sesungguhnya adalah petani. Saat sekolah, saya lebih senang mendengar cerita sejarah dari ayah saya daripada membacanya sendiri dari buku LKS yang harganya Rp8000 masa itu. Kenangan masa kecil itu dan berbagai pengalaman setelahnya membuat saya memutuskan untuk menjadi pendidik. Pendidik yang akan didatangi peserta didiknya saat ada masalah atau saat ketidakpahaman melanda, seperti saat saya mendatangi ayah saya.

 

Mimpi kecil itu terus berkembang seiring berjalannya waktu, hingga sampai pada pengumuman hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2015, saya mendapati bahwa saya diterima di Universitas Negeri Padang dengan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan status penerima beasiswa Bidikmisi. Saya sangat bersyukur atas status tersebut, begitu pula dengan orang tua saya. Saya sadar bahwa Bidikmisi memiliki peran penting dalam pencapaian pendidikan saya.

Masa kuliah adalah masa yang paling saya kenang. Saya banyak belajar dan bertumbuh di masa itu. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah tekad saya untuk sampai ke kampus tepat waktu setiap harinya. Saya harus bangun pukul 04.00 WIB untuk membantu Etek (adik Ibu) memasak agar bisa membawa bekal makan siang serta menempuh perjalanan selama 1 jam dengan angkutan umum untuk sampai ke kampus tepat waktu. Saat kuliah saya tinggal bersama keluarga Etek untuk meminimalisir pengeluaran keluarga. Jarak antara rumah etek dan kampus sekitar 14 km, jika menggunakan sepeda motor jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu setengah jam. Karena saya menggunakan angkutan umum, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke kampus menjadi dua kali lipat. Seringkali saya temui para tunawisma masih tertidur pulas di emperan toko saat akan berangkat ke kampus. Saya belajar disiplin dan bersyukur dari kebiasaan kecil ini.

Semasa kuliah, saya juga aktif mengikuti organisasi kampus, yaitu Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Bahasa dan Seni UNP. Melalui organisasi ini, saya belajar membangun kerjasama antar anggota tim dan meningkatkan kebermanfaatan diri terhadap sesama. Selain itu, saya belajar bagaimana harus bersikap dalam situasi-situasi tertentu melalui organisasi ini.

Di samping itu, saya aktif mengikuti komunitas online yang bernama Beranibaca. Komunitas Beranibaca merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang literasi. Meningkatkan minat dan daya baca generasi penerus bangsa adalah visi komunitas yang saya ikuti ini. Melalui komunitas ini, saya belajar ikhlas dalam beramal dan menjadi lebih produktif dalam bidang literasi. Berkaitan dengan bidang literasi, saya juga mengelola blog pribadi sebagai tempat berbagi ilmu dan tempat melatih kemampuan menulis saya. Saya juga pernah mengikuti beberapa lomba menulis puisi dan puisi saya terpilih untuk dibukukan.

Di sisi lain, melalui Ikatan Mahasiswa Bidikmisi saya dapat bertemu dengan tokoh berpengaruh di Indonesia, diantaranya Ibu Megawati Soekarnoputri, Bapak Jusuf Kalla, Ibu Puan Maharani serta beberapa menteri yang menjabat dalam Kabinet Kerja. Bertemu dengan tokoh-tokoh tersebut menyulutkan api semangat dalam diri saya untuk ikut memberi kontribusi terhadap Indonesia. Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan ilmu yang telah saya peroleh dan akan terus mengabdi kepada negara. Saya akan mempelajari banyak hal agar dapat memberi lebih kepada orang-orang sekitar saya.

Setelah lulus sarjana dengan IPK 3,67, saya ikut berpartisipasi dalam seleksi CPNS yang diselenggarakan secara besar-besaran oleh pemerintah. Dengan mengikuti seleksi tersebut, saya berharap dapat langsung mengabdi kepada negera karena telah memberikan pendidikan yang layak bagi seorang anak petani seperti saya. Namun, langkah saya terhenti pada tahap Seleksi Kompetensi Bidang karena nilai pesaing saya lebih tinggi dari nilai saya. Kegagalan itu saya jadikan cambuk agar menjadi lebih baik di masa depan.

Tidak berhenti di situ, saya melamar untuk menjadi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di MTs Negeri 1 Solok Selatan, tempat saya mengenyam pendidikan SLTP sekaligus salah satu madrasah tertua di kabupaten saya. Kegiatan pembelajaran di tempat saya mengabdi menerapkan model pembelajaran daring dan luring (kombinasi). Pembelajaran daring dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Pendidik akan memberikan materi pembelajaran dan tugas melalui aplikasi tersebut sesuai jadwal pelajaran yang telah ditetapkan sekolah. Pembelajaran luring dilakukan seperti biasa, pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran di dalam kelas dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Meski sudah berjalan dengan model kombinasi, kegiatan pembelajaran belum dapat berjalan secara efektif dan efisien. Hal itu disebabkan oleh beberapa masalah yang ditemukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Ada dua masalah yang saya temui saat kegiatan pembelajaran daring. Pertama, terkait fasilitas pembelajaran daring. Tidak semua peserta didik memiliki gawai, kalaupun ada terkadang itu digunakan bersama adik atau kakaknya yang juga melakukan pembelajaran daring. Di sisi lain, ada peserta didik yang memiliki gawai tetapi kuota internet tidak mencukupi. Bahkan ada peserta yang tidak memiliki jaringan internet di daerah tempat tinggalnya. Kedua, terkait aktivitas pembelajaran. Peserta didik cenderung pasif saat mengikuti kelas daring. Peserta didik hanya menjadi silent reader saat pembelajaran daring berlangsung. Hal itu menyebabkan komunikasi dua arah yang diharapkan dalam kegiatan pembelajaran tidak terjalin dengan baik.

Untuk meyelesaikan permasalahan yang ditemui selama kegiatan pembelajaran daring saya melakukan hal berikut. Pertama, bagi peserta didik yang tidak memiliki gawai, saya memberikan materi dan tugas yang akan dipelajari di kelas daring di akhir kegiatan pembelajaran luring. Bagi peserta didik yang tidak memiliki kuota internet ataupun yang tidak memiliki jaringan internet, saya sarankan untuk pergi ke tempat WiFi gratis terdekat yang telah disediakan pemerintah daerah. Kedua, untuk mengatasi peserta didik yang pasif, saya berusaha memancing peserta didik dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga komunikasi dua arah yang diharapkan terjalin dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Selanjutnya, saat melakukan pembelajaran luring, ada beberapa masalah yang saya temukan. Pertama, terkait motivasi belajar peserta didik. Dalam seminggu peserta didik hanya dapat bertatap muka dengan pendidik selama dua hari setiap tingkatnya. Karena sudah terbiasa belajar di rumah, saat di sekolah peserta didik tidak bersemangat dalam belajar. Selain itu, karena hanya dua hari bertemu dengan teman sekelasnya, peserta didik cenderung lebih suka mengobrol. Kedua, terkait aktivitas pembelajaran, saat diberi latihan, peserta didik sulit untuk berpikir dan malas menggali lebih dalam materi yang diberikan. Hal itu disebabkan kebiasaan peserta didik yang menggunakan internet untuk menyelesaikan tugas yang diberikan selama kelas daring. Ketiga, terkait protokol kesehatan yang salah satunya menjaga jarak, saya terkendala saat hendak memberikan bimbingan secara individu. Dalam kegiatan pembelajaran yang ideal, pendidik hendaknya memberikan bimbingan secara individu kepada peserta didik yang membutuhkan agar tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal. Namun, hal itu tidak dapat terlaksana karena harus mematuhi protokol kesehatan yang salah satunya menjaga jarak.

Saya melakukan hal-hal berikut untuk mengatasi masalah yang terjadi selama kelas luring. Pertama, untuk mengatasi turunnya motivasi belajar peserta didik, saya memberikan beberapa nasehat dan motivasi kepada peserta didik agar senantiasa semangat dalam belajar. Di samping itu, di awal atau akhir pembelajaran saya memberikan kuis atas materi yang telah dipelajari sebelumnya. Kuis ini hanya berupa tanya jawab lisan dan kegiatan ini di luar kegiatan latihan. Tujuannya agar peserta didik termotivasi untuk belajar dan mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Kedua, untuk mengatasi kebuntuan berpikir peserta didik, saya akan mengubah konteks bacaannya dengan hal-hal yang lebih sederhana dan dekat dengan peserta didik. Contohnya, saat peserta didik diminta menulis teks persuasi, saya akan meminta peserta didik menulis teks persuasi tentang hobinya, seperti mengajak pembacanya mengikuti klub sepakbola atau silat yang diikutinya. Hal itu akan lebih mudah bagi peserta didik karena kegiatan itu sudah menjadi hobinya. Ketiga, untuk mempermudah jalan saya dalam mengontrol dan membimbing siswa. Saya akan memanggil siswa secara acak dan bertanya sudah sejauh mana latihan yang dibuatnya atau apakah ada hal-hal yang kurang dipahami. Jika ada hal yang kurang dipahami, saya minta siswa lain untuk mengangkat tangan jika menemui masalah yang serupa. Jika sudah demikian, saya akan membahas masalah tersebut bersama-sama dengan peserta didik. Karena keterbatasan waktu dan fasilitas, itulah yang saya lakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang saya temui di sekolah tempat saya mengabdi.

Terlepas dari itu semua, masih banyak hal yang harus saya perbuat untuk memajukan pendidikan Indonesia. Ada beberapa isu utama dunia pendidikan Indonesia yang hingga saat ini belum terselesaikan, salah satunya peringkat Progrramme for International Student Assesment (PISA) Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 berada dalam urutan bawah. PISA sendiri merupakan metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. Untuk nilai kompetensi membaca, Indonesia berada pada peringkat 72 dari 77 negara; untuk nilai matematika, berada pada peringkat 72 dari 78 negara; dan untuk nilai sains berada pada peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10-15 tahun terakhir (Kompas.com, 05/04/2020) Untuk mengatasi permasalahan tersebut pemerintah telah mengambil langkah yang besar dengan mencanangkan program Merdeka Belajar. Program Merdeka Belajar ini fokus pada peningkatan kualitas SDM. Hal ini menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden Republik Inodnesia Ma’ruf Amin untuk meningkatkan kualitas SDM (kemdikbud.go.id, 11/12/2019). Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas tentu perlu diimbangi dengan pendidikan yang berkualitas pula. Oleh sebab itu, pemerintah mendorong semua pemangku kepentingan pendidikan untuk ikut berperan aktif menjadi agen perubahan. Selanjutnya, Mendikbud memaparkan bahwa pendidikan berkualitas dapat tercapai melalui perbaikan pada 1) infrastruktur dan teknologi; 2) kebijakan prosedur, dan pendanaan; 3) kepemimpinan, masyarakat, dan budaya; 4) serta kurikulum, pedagogi, dan asesmen pendidikan (dikutip dari situs web kemdikbud.go.id, 03/02/2020).

Agar dapat berperan aktif dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang berkualitas, saya berpikir untuk memperdalam ilmu tentang kurikulum, pedagogi, dan asesmen dengan melanjutkan studi magister dengan fokus Pendidikan Bahasa Indonesia di salah satu universitas negeri terkemuka di Indonesia. Jika saya diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan di jenjang magister, tentu saya dapat memberikan kontribusi yang lebih besar berkat ilmu dan pengalaman yang saya peroleh selama menempuh pendidikan.

Mimpi jangka panjang saya untuk dunia pendidikan Indonesia adalah terwujudnya bangsa yang cerdas dan sejahtera sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Cerdas di sini bukan hanya dalam ranah kognitif tetapi juga ranah afektif. Mimpi jangka pendek saya untuk dunia pendidikan Indonesia adalah terwujudnnya program Merdeka Belajar yang saat ini dicanangkan pemerintah. Saya berharap dengan terwujudnnya program Merdeka Belajar akan lahir generasi penerus yang memiliki SDM unggul, berkarakter, cerdas, dan berdaya saing. Selain itu, apabila Merdeka Belajar terwujud kualitas hidup bangsa Indonesia akan meningkat dan bukan tidak mungkin kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terealisasikan.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, saya ingin mengambil peran sebagai seorang dosen di institusi pendidikan tinggi sekaligus peneliti di bidang pendidikan khususnya bidang Pendidikan Bahasa Indonesia. Selanjutnya, saya akan berusaha memperbaiki dan meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang dosen dengan melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Saya yakin semakin tinggi kompetensi saya sebagai seorang dosen maka semakin unggul dan berkualitas pula calon guru yang saya hasilkan. Di samping itu, saya akan melakukan berbagai penelitian dan pengembangan berkaitan dengan bidang yang saya ampu agar dapat memberikan sumbangsih bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Saya juga ingin terus berbagi melalui tulisan saya, baik itu dalam bentuk karya sastra mapun karya ilmiah. Tujuannya hanya satu, tentu saja untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Esai inilah yang saya gunakan untuk mendaftar beasiswa LPDP dan dengan esai ini saya lulus beasiswa LPDP dalam satu kali percobaan. Sebenarnya esai ini adalah salah satu alat yang bisa saya gunakan untuk meyakinkan pewawancara bahwa saya layak mendapatkan kesempatan untuk menerima beasiswa LPDP. Jika teman-teman ingin tahu perjalanan saya selama mengikuti seleksi beasiswa LPDP bisa klik ini ya.

Selasa, 23 Mei 2023

Apresiasi Puisi "Melihat Api Bekerja" karya M. Aan Mansyur

Soal:

Salah satu puisi yang ditulis oleh M. Aan Masyur adalah “Melihat Api Bekerja”. Apresiasilah puisi tersebut. Setelah itu, kemukakan pendapat Anda terkait pendekatan apa yang paling cocok untuk mengkaji puisi tersebut? Jelaskan rasionalisasinya!

Jawaban:

a. Puisi Melihat Api Bekerja Karya M. Aan Mansyur

Melihat Api Bekerja
Oleh M. Aan Mansyur

Di kota ini ruang bermain
adalah sesuatu yang hilang
dan tak seorang pun berharap
menemukannya. Anak-anak tidak
butuh permainan. Mereka akan
memilih kegemaran masing-masing
setelah dewasa. Menjadi dewasa
bukan menunggu negara bangun.
Menjadi dewasa adalah menu
Favorit di restoran cepat saji.

 

Para tetangga lebih butuh pagar
tinggi daripada pendidikan. Sekolah
adalah cara yang baik untuk
istirahat berkelahi di rumah. Anak-
anak membeli banyak penghapus
dan sedikit buku. Terlalu banyak hal
yang mereka katakan dan gampang
jatuh cinta. Mereka menganggap
jatuh cinta sebagai kata kerja dan
ingin mengucapkannya sesering
mungkin. Mereka tidak tahu jatuh
cinta dan mencintai adalah dua
penderitaan yang berbeda.

 

Jalan-jalan dan rumah kian lebar.
Semakin banyak orang yang hidup
dalam kehilangan. Harapan adalah
kalimat larangan, sesuatu yang
dihapus para polisi setiap mereka
temukan di pintu-pintu toko.
Hidup tanpa curiga adalah hidup
yang terkutuk. Kawan adalah lawan
yang tersenyum kepadamu.

 

Selebihnya, tanpa mereka tahu,
sepasang kekasih diam-diam
ingin mengubah kota ini jadi
abu. Aku mencintaimu dan kau
mencintaiku—meskipun tidak
setiap waktu. Kita menghabiskan
tabungan pernikahan untuk beli
bensin.

 

Kita akan berciuman sambil
melihat api bekerja.

b. Apresiasi Puisi Melihat Api Bekerja Karya M. Aan Mansyur

Pada bait pertama puisi ini M. Aan Mansyur menyiratkan bahwa di sebuah kota yang dikenalnya tempat bermain dimana kegembiraan dan kebahagiaan sudah hilang dan tidak dibutuhkan lagi bahkan oleh anak-anak yang pada hakikatnya butuh kesenangan. Anak-anak akan tumbuh dewasa dan menjalani hidupnya masing-masing. Saat dewasa anak-anak akan sibuk dengan hidupnya dan tidak terlau peduli dengan lingkungannya, dalam hal ini M. Aan mansyur menggunakan diksi negara. Anak-anak akan dewasa dengan cepat seperti halnya menu di restoran cepat saji.

Pada bait kedua ini penyair seperti memberi sindiran terhadap masyarakat saat ini yang membutuhkan pagar tinggi dari pada pendidikan. Kata ‘pagar tinggi’ di bait ini seperti mengisolasi diri dari lingkungan sekitar atau bisa juga diartikan sebagai materi atau uang yang lebih dibutuhkan. Sekolah dijadikan tempat pelarian dari realita hidup yang ada. Anak-anak tumbuh dengan dipenuhi rasa ragu dan sedikit ilmu. Mereka terlalu banyak berbicara dan mudah percaya dengan perkataan orang lain. Sehingga tidak menyadari bahwa mereka tengah  menyiksa diri sendiri.

Pada bait ketiga tersirat bahwa semakin maju dan berkembangnya suatu daerah maka semakin banyak orang-orang yang kesepian. Harapan hidup semakin tipis apalagi bagi orang-orang yang kecil. Hidup tanpa curiga adalah sesuatu yang akan merugikan diri sendiri dan kawan adalah lawan yang tengah bersandiwara kepadamu.

Pada bait keempat tergambar bahwa ada orang-orang yang ingin mengubah kota yang telah disebutkan bait-bait sebelumnya menjadi abu. Kata ‘abu’ di sini bisa berarti melenyapkan kota dengan membakarnya secara sungguhan atau hanya melenyapkan hal-hal kebiasaan buruk yang ada di kota itu saja. Selanjutnya, dalam bait ini juga tersirat bahwa hubungan orang-orang ini tidak begitu kokoh atau rapuh. Namun, mereka rela mengorbankan hartanya untuk mewujudkan keinginan itu.

Dalam bait kelima tersirat makna bahwa orang-orang yang ingin mengubah kota itu akan bersiap dan bekerja sama sembari melihat setiap perubahan yang terjadi di kota itu.

Secara keseluruhan puisi Melihat Api Bekerja menyiratkan kekecewaan dan kritik terhadap suatu ‘kota’ yang dikenal oleh penulis. Ia menggambarkan kekacauan dan gaya hidup masyarakat di kota itu dengan menggunakan kata-kata yang mengandung konotasi. Kemudian, dalam puisi ini juga tersirat pemberontakan terhadap doktrin-doktrin yang telah tertanam dalam pikiran masyarakat kota itu. Di sisi lain, penulis menggambarkan keinginannya untuk mengubah kota itu dengan segala yang dia miliki. Kemudian, menyaksikan setiap perubahan yang terjadi di kota itu.

c. Pendekatan yang Paling Cocok untuk Mengkaji Puisi Melihat Api Bekerja Karya M. Aan Mansyur dan Alasan Rasionalitasnya.

Menurut saya, pendekatan yang paling cocok untuk mengkaji puisi Melihat Api Bekerja karya M. Aan Mansyur adalah pendekatan mimetik Abrams dengan model stilistik. Pemilihan pendekatan mimetik dilatarbelakangi oleh beberapa alasan. Pertama, menurut Paembonan (2020) sastra mengungkap berbagai persoalan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari manusia. Kedua, saat membaca puisi Melihat Api Bekerja, saya merasa bahwa isi dari puisi ini menggambarkan realitas kehidupan modern masyarakat Indonesia saat ini. Di samping itu, M. Aan Mansyur sepertinya ingin menyampaikan sesuatu terkait orang-orang yang ada di kota dalam puisi ini. Untuk dapat mengetahui sesuatu yang ingin disampaikannya itu, kita perlu mengaitkannya dengan realitas masyarakat saat ini melalui pendekatan mimetik.

Selanjutnya, menurut Fransori (2017: 2) puisi memiliki ciri khas yaitu kepadatan pemakaian bahasa, sehingga paling besar kemungkinannya untuk menampilkan ciri-ciri stilistika. Stilistik merupakan model kajian yang tepat untuk meneliti kekhasan bahasa pada puisi, baik itu dari segi gaya bahasa figuratif dan citraan. Model pengkajian stilistik dipilih sebagai landasan untuk mengkaji puisi ini karena M. Aan Mansyur  banyak menggunakan bahasa figuratif dalam puisi ini. Bahasa figuratif yang digunakan M. Aan Mansyur digunakan untuk memperoleh nilai estetis. Nilai estetis puisi ini juga dapat dilihat dari pemakaian gaya bahasa yang bermakna konotatif.

Jadi, saya memilih pendekatan mimetik Abrams dengan model stilistik sebagai pendekatan yang paling cocok untuk mengkaji puisi Melihat Api Bekerj karya M. Aan Mansyur karena puisi tersebut menggambarkan realitas kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Kemudian, M. Aan Mansyur sering menggunakan bahasa figuratif dan gaya bahasa dengan makna konotatif di dalam puisi ini.

Puisi tentang Gempa Bumi

 

Manusia
Oleh: Kika

 

Hiruk pikuk kota memuncak

Semua sibuk dengan diri mereka sendiri

Sibuk dengan kefanaan nyata

 

Aku pun begitu

pergi sekolah

menadah ilmu untuk hidup di dunia yang fana

 

Gemerlap kota yang menggoda

Menjadi lukisan yang wajib dipandang setiap hari

Suara klakson yang membucah

Menjadi nyanyian merdu di sepanjang hari

 

Sudah lupa dan terlena

Kau aku dan kita

 

Lalu

Tuhan datang

Menyapa

 

Sontak semua terbelalak

Sebagian meminta ampun atas segala

Sebagian lagi pura-pura sengsara

 

Tahu tidak yang paling luar biasa?

 

Sebagian bertindak tidak pernah salah

Meminta ampun atas dosa yang salah

Seolah ia tiada cela

 

Manusia

Bandung, 18 Desember 2022

Pengalaman Pasang Behel di RSKGM Bandung #1

Hai para pembaca! Di tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman pribadi saya saat memulai proses pemasangan behel di RSKGM Bandung. Semoga cerita ini bisa membantu teman-teman yang sedang mempertimbangkan pasang behel atau penasaran seperti apa proses awalnya di RSKGM.

Reservasi Online di Website RSKGM

Pada 18 Januari 2023, saya melakukan reservasi online sebagai pasien baru melalui situs resmi RSKGM Bandung: www.rskgm.bandung.go.id. FYI, reservasi online bisa dilakukan mulai H-3 hingga H-1 sebelum kunjungan, dan hanya bisa dilakukan sebelum pukul 20.00 WIB. Jika ingin membatalkan reservasi, masih bisa dilakukan hingga pukul 23.59 H-1 dari tanggal kunjungan. Cukup fleksibel dan praktis menurut saya!

Hari Pertama ke RSKGM

Keesokan harinya, 19 Januari 2023, saya berangkat ke RSKGM menggunakan ojek online dengan tarif sekitar Rp14.000. Saya tiba di lokasi sekitar pukul 08.00 WIB. Begitu sampai, saya langsung menghampiri satpam perempuan yang berjaga di depan dengan banyak nomor antrean di mejanya. Setelah menunjukkan bukti reservasi online, saya diberi nomor antrean pasien baru (B032) dan dicek suhu tubuh.

Saya lalu diarahkan ke area belakang untuk proses pendaftaran pasien baru. Saat menunggu, saya menyadari bahwa nomor antrean yang dipanggil hanya kode A, sementara saya punya kode B. Setelah bertanya kepada seorang teteh yang duduk di sebelah saya, barulah saya tahu bahwa nomor antrean B001 hingga B040 sudah sempat dipanggil lebih awal. Saya pun segera mengonfirmasi ke petugas dan akhirnya dipanggil untuk skrining awal.

Di tahap ini, petugas kembali mengecek suhu tubuh saya dan menanyakan kondisi kesehatan secara umum. Setelah itu, saya diberi stiker bulat berwarna hijau untuk ditempelkan di bahu kanan — sebagai tanda sudah lolos skrining awal.

Skrining dan Pengambilan Nomor Poliklinik

Selanjutnya, saya diarahkan ke ruangan untuk skrining menyeluruh, seperti pengecekan tensi dan riwayat penyakit. Setelah itu, saya menuju area depan rumah sakit untuk mengambil nomor antrean poli sesuai dokter pilihan saya saat reservasi. Setelah mendapatkan nomor, saya diarahkan ke lantai 3.

Sampainya di lantai 3, saya sempat bingung karena banyak ruangan dan antrean pasien. Saya pun membaca satu per satu nama dokter di pintu dan mencocokkannya dengan nama dokter yang saya pilih. Setelah menunggu sekitar 20 menit, saya dipersilakan masuk ke ruang konsultasi.

Konsultasi Awal dengan Dokter Spesialis Ortodonti

Di dalam ruangan, saya diarahkan duduk di kursi pasien untuk pemeriksaan awal. Sambil memeriksa, dokter bertanya, “Apakah Anda akan menjalani perawatan ini sampai tuntas?” Beliau juga menjelaskan risiko jika berhenti di tengah jalan, terutama karena saya berasal dari luar Pulau Jawa — jadi dokter ingin memastikan komitmen saya dengan sungguh-sungguh.

Dokter juga memberikan gambaran umum tentang rencana perawatan, mulai dari:

  • Jumlah gigi yang perlu dicabut
  • Waktu pencabutan
  • Estimasi seberapa banyak gigi akan dimundurkan (dalam cm)
  • Apa saja yang harus dilakukan setelah behel dilepas nanti

Setelah pemeriksaan selesai, saya diberikan rujukan untuk rontgen cephalometric dan panoramic. Sebenarnya, rontgen bisa dilakukan langsung di RSKGM. Namun sayangnya, alat rontgen sedang rusak saat itu, sehingga saya diberi kebebasan untuk rontgen di tempat lain.

Biaya Konsultasi Awal

Untuk konsultasi pertama ini, saya hanya dikenakan biaya Rp60.000. Menurut saya, ini sangat terjangkau, apalagi ditangani langsung oleh dokter spesialis ortodonti.

Cerita tentang proses rontgen dan biaya selanjutnya akan saya bagikan di tulisan berikutnya, ya.
Kalau kalian punya pertanyaan atau pengalaman serupa, jangan ragu untuk tinggalkan komentar di bawah. Sampai jumpa di bagian selanjutnya!

Senin, 24 Oktober 2022

Analisis Fenomenologi Puisi "Malam Lebaran" Karya Sitor Situmorang

Malam Lebaran

Bulan di atas kuburan

Karya: Sitor Situmorang

A.    LAPIS BUNYI

Bunyi-bunyi yang terdapat dalam puisi ini bersumber dari rima antara judul puisi dan lariknya. Rima tersebut dapat dilihat pada kata malam dengan bulan dan kata lebaran dengan kuburan. Rima yang terdapat pada puisi ini termasuk kepada jenis rima tidak sempurna (lam pada kata malam dengan lan pada kata bulan) dan rima sempurna (-an pada lebaran dan an pada kata kuburan. Di samping itu, jika melihat dari liriknya. puisi ini berima datar yaitu terdapat kata-kata berima pada baris yang sama, yaitu bunyi an pada kata bulan dan kuburan dalam satu larik yang sama. Dalam puisi ini ada kesamaan bunyi vokal “a” dalam kata malam lebaran, bulan, atas, dan kuburan serta bunyi “-an” dalam kata lebaran, bulan, dan kuburan. Kuatnya bunyi vokal “a” dan konsonan “n” dalam puisi ini memberi efek kesedihan yang terpendam.

B.    LAPIS ARTI

Frasa Malam Lebaran mempunyai makna konotasi malam sebelum hari raya tiba yang akan jatuh pada esok harinya. Dalam kepercayaan agama islam malam lebaran merupakan malam yang istimewa sebab pada malam itu manusia kembali menjadi fitrah dan bersih dari dosa-dosa. Semua kebahagian bertumpah ruah sebab besok adalah hari kemenangan bagi mereka yang menjalankan. Sebagai imbalan atas ketaatan itu Tuhan menghapus semua dosa-dosa mereka seperti bayi yang baru lahir ke dunia. Pada puisi ini frasa malam lebaran digunakan sebagai penanda waktu, yaitu waktu saat malam lebaran. Atau juga bisa digunakan sebagai penanda suasana yaitu suasana gembira yang luar biasa.

Penggunaan kata Bulan dalam puisi ini jelas merupakan simbol, sebab pada malam lebaran biasanya bulan masih belum nampak (bulan baru). Pada saat itu bulan tidak bisa dilihat dengan mata kosong, apalagi di atas kuburan. Penggunaan kata bulan lebih dimaksudkan sebagai bentuk penerang, petunjuk, suatu ilham atau hidayah dari Sang Pencipta untuk pengarang. Pengarang seolah ingin mengambarkan bahwa ia baru saja mendapatkan petunjuk dan penerang secerah sinar bulan. Terkait petunjuk, penerang dan pencerahan yang didapatkan penggarang kemudian dapat kita temukan pada kalimat berikutnya yakni di atas kuburan.

Kuburan kerap kali digunakan untuk mengambarkan tempat yang sepi dan sunyi.  Dalam puisi ini pengarang seakan ingin mengambarkan suasana hatinya yang sepi di tengah ingar bingar malam lebaran. Kuburan juga identik dengan kematian, yaitu proses berpulangnya seorang hamba kepada tuhannya. Penggarang seolah diingatkan kembali tentang kematian yang bisa menimpa siapa saja dan kapan saja, termasuk saat malam lebaran. Hal ini membuat malam lebaran yang seharusnya ramai mendadak menjadi sepi dan sunyi bagi pengarang.

            Dengan penggunaan frasa malam lebaran dan rembulan di atas kuburan secara tidak langsung tergambar sebuah pertentangan. Malam lebaran yang didentik dengan kegembiraan dan suka cita sangat berlawanan dengan rembulan di atas kuburan yang menyiratkan kesepian dan kesunyian.

C.    LAPIS DUNIA TERSURAT

Meski hanya terdiri dari satu larik, puisi ini menyuratkan sebuah dunia yang bertentangan. Kegembiraan dan keceriaan dari suasana malam lebaran berbanding terbalik dengan suasana sunyi, sepi, dan kehilangan dari kuburan. Pembaca akan langsung membayangkan malam lebaran yang penuh kembang api dan gelak tawa serta sebuah kuburan yang disinari oleh cahaya rembulan di tengah malam yang sepi dan sunyi.

D.    LAPIS DUNIA TERSIRAT

Makna dari puisi ini lebih mengarah pada kehidupan sosial bermasyarakat sesuai tema yang ingin disampaikan oleh penulis yaitu rasa kemanusiaan.

Kata “Bulan” yang dimaksud dalam puisi di atas adalah bulan di malam lebaran. Lebaran sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat lebaran itu, semua orang dari semua kalangan tak melewatkan momentum berkah dan maghfirah.

Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan di malam lebaran itu ada juga ketragisan hidup, tidak sedikit saudara-saudari kita yang masih akan harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari lebaran itu, dan ada juga orang yang tidak bisa berlebaran dengan anggota keluarganya. Situasi dan keadaan ini sangat jauh dari nilai lebaran yang penuh dengan kebahagiaan mereka hanya bisa mendengar suara takbir yang terdengar pilu. Itu penulis maknai dari frasa “ di atas kuburan”. Jadi jika begitu kejadiannya memang benar yang dikatakan Sitor dalam puisinya yaitu Bulan di atas kuburan, yakni kebahagiaan di atas kesedihan dan penderitaan orang lain.

 


Minggu, 23 Oktober 2022

KAJIAN SURAH AL-ANBIYA AYAT 47: MENYIAPKAN PERTANGGUNGJAWABAN AMAL PERBUATAN DI HADAPAN ALLAH SWT

Resume Kajian Subuh
Oleh: Riska Mulyani (2208149)
Kelas: Pendidikan Bahasa Indonesia S2-A

 

KAJIAN SURAH AL-ANBIYA AYAT 47:
MENYIAPKAN PERTANGGUNGJAWABAN AMAL PERBUATAN DI HADAPAN ALLAH SWT
Pembicara: Prof. Dr. Sofyan Sauri, M.Pd.
Hari/Tanggal:Ahad,
23 Oktober 2022/27 Rabiul Awal 1444 H
Pukul: 05.00 s.d. 06.00 WIB

A. Surah Al-Anbiya Ayat 47 dan Terjemahan

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۗ  وَاِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَاۗ وَكَفٰى بِنَا حَاسِبِيْنَ

Artinya:Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (Q.S. Al-Anbiya: 47)

B. Interpretasi Para Musafir

1. Tafsir Tahlili dengan tegas Allah Swt. menyatakan pada ayat ini, dalam menilai perbuatan hamba-Nya kelak di hari kiamat, Allah Swt. akan menegakkan neraca keadilan yang benar-benar adil sehingga tidak seorang pun akan dirugikan dalam penilaian itu. Maksudnya penilaian itu akan dilakukan setepat-tepatnya, sehingga tidak akan ada seorang hamba yang amal kebaikannya dikurangi sedikit pun, sehingga menyebabkan pahalanya dikurangi dari yang semestinya dia terima. Demikian juga dalam Tafsir Tahlili dikatakan bahwa memberikan pahala yang berlipat ganda dari jumlah kebaikannya atau menimpakan azab yang lebih ringan dari kejahatannya adalah terserah kepada kehendak Allah Swt., dan Allah  SWT adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

2. Tafsir Munir bahwa yang dimaksud dengan  kalimat wanado'ulmawaziina adalah Allah memperlihatkan perhitungan yang akurat serta balasan sesuai dengan amal perbuatan dengan adil dan objektif, tanpa ada yang dizalimi sedikit pun. Dengan kata lain, yang dimaksud dengan timbangan adalah keadilan di antara semua makhluk, hal itu diilustrasikan dengan membuat neraca untuk menimbang hal-hal yang ditimbang.

 

3. Hasan Al-Basri menandaskan: itu adalah neraca yang memiliki dua daun timbangan dan batang. Barangsiapa yang amalan kebaikannya lebih berat dari amalan jeleknya, ia termasuk orang yang selamat. Barangsiapa yang amalan jeleknya lebih berat dari amal baiknya, ia termasuk orang yang celaka.

C. Nilai-Nilai Pendidikan

1.     Mendidik hambanya agar senantiasa mawas diri dalam segala perbuatan

2.     Senantiasa mengajarkan melaksanakan amal saleh sebagai bekal kehidupan

3.     Mendidik hambanya untuk selalu bermuhasabah dan menghisab diri sebelum dihisab di akhirat kelak

4.     Mengajarkan agar senantiasa bertaubat atas apa yang telah diperbuat

D. Semua Perbuatan akan Dimintai Pertanggungjawaban

Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Qiyamah: 36. Selain itu, dalam Q.S. Luqman: 16 Allah menegaskan bahwa setiap perbuatan pasti akan ada balasannya meski hanya sebesar biji sawi. Manusia akan melewati neracanya Allah dan semua amalnya akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan ditimbang  sesuai dengan apa yang mereka perbuat. Melalui Q.S. Al-Haqqah: 18 Allah Swt. Mengingatkan bahwa semua perbuatan hambanya akan terbuka tanpa ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dan Imam ath-Thabrani Nabi Muhammad saw. bersabda Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.” Melalui hadist ini dapat kita pahami berapa lama semua manuasia menanti Pengadilan Allah.

Dalam HR. Tirmidzi Nabi Muhammad saw. bersabda “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”.

Dalam penjelasan para ulama ada beberapa pendapat yang ditimbang dalam mawazin (timbangan) pada hari kiamat, yaitu 1) amal itu sendiri, 2) catatan amal, 3) pahala dari amalan, dan 4) pelaku amal itu sendiri.

 Amalan yang dapat memperberat timbangan menurut H.R. Bukhari 7/168 dan Muslim 4/2072 adalah bacaan سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيم yang berarti Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung.

Menurut Q.S. Al-Kahf: 49 semua perbuatan manusia tercatat dengan baik dalam Catatan Amal. Tidak ada yang tertinggal sedikitpun dalam catatan amal tersebut. Semua tertulis dengan detail setiap apa-apa yang telah dikerjakan oleh manusia.

Selanjutnya, menurut Q.S. Yasin: 65 semua anggota tubuh manusia akan berbicara kecuali mulit. Pada anggota tubuh tersebut akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

 

E. Mempersiapkan Bekal Pertanggungjawaban

Melalui Q.S. Al-Baqarah: 197 Allah Swt. memperingatkan umat manusia untuk membawa bekal, dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Selain itu, melalui  Q.S. Al-A’raf: 26 Allah Swt. berfirman bahwa pakaian terbaik dan lebih baik adalah takwa. Menurut Q.S. Al- Baqarah: 3 tanda orang yang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang telah dianugerahkan kepada mereka (dalam hal ini bersedekah).

Berikut ini adalah hal-hal yang dilakukan untuk mempersiapkan bekal untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

1.     Mengusahakan amal saleh dan ibadah terbaik (Q.S. An-Najm: 39). 

2.   Janganlah mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui  (Q.S. Al-Isra’: 36).

3.     Menginfakkan harta di jalan Allah dan berbuat baik (Q.S. Al-Baqarah: 195).

4.     Bertakwa dan memperhatikan perbuatan yang akan dilakukan (Q.S. Al-Hasyr: 18).

5.     Memohon pertolongan dengan sabar dan salat (Q.S. Al-Baqarah: 45-46).

6.     Bertakwa dan tidak menyombongkan diri (Q.S. Al-Qashash: 83).

7.     Menyiapkan amalan yang terus mengalir pahalanya (HR. Muslim no. 1631).

Cari Blog Ini