Rabu, 16 September 2026

Ulasan Novel The Little Prince (Pangeran Kecil) Karya Antoine de Saint-Exupery: Buku Sederhana dengan Nilai yang Tidak Sederhana

Saya akhirnya membaca The Little Prince setelah cukup lama mencari judul buku yang tepat untuk mengisi waktu luang saat mengantre di klinik. Sebenarnya, buku ini sudah lama saya beli. Hanya saja, hati saya belum benar-benar tergerak untuk membacanya. Salah satu alasannya sederhana: saya takut kecewa.

Saya takut buku ini tidak akan sehebat yang selama ini saya baca dari berbagai ulasan. Pengalaman saya, buku yang dipuji sangat bagus oleh banyak reviewer terkadang justru terasa biasa saja setelah selesai saya baca. Mungkin memang soal selera. Setiap orang tentu punya pengalaman membaca dan cara memaknai cerita yang berbeda.

Saya bahkan pernah bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah saya kurang peka? Mengapa pesan-pesan mendalam yang ditemukan orang lain dalam sebuah buku terkadang tidak saya rasakan dengan cara yang sama?

Lalu, apa yang terjadi setelah saya membaca The Little Prince? Apakah buku ini memang sehebat yang dikatakan banyak orang? Atau kali ini saya justru akan kembali tidak menemukan sesuatu yang istimewa?

Ternyata, jawabannya baru benar-benar saya pahami beberapa bulan kemudian.

Identitas Buku
Judul Asli: Le Petit Prince
Judul Bahasa Inggris: The Little Prince
Judul Bahasa Indonesia: Pangeran Cilik/ Pangeran Kecil
Penulis dan Ilustrator: Antoine de Saint-Exupery
Bahasa Asli: Perancis
Tahun Terbit Pertama:1943
Edisi: HUT GPU 50 Tahun

The Little Prince bercerita tentang seorang penerbang yang mengalami kerusakan pesawat di tengah gurun. Di tempat itulah ia bertemu dengan seorang pangeran cilik. Selama mereka bersama, sang penerbang mendengar berbagai kisah tentang kehidupan pangeran kecil tersebut.

Ia bercerita tentang planet kecil tempat tinggalnya, tentang seekor mawar yang cerewet dan banyak maunya, serta tentang perjalanan mengunjungi berbagai planet sebelum akhirnya sampai di Bumi.

Jika hanya melihat premisnya, cerita ini memang terdengar seperti dongeng anak-anak.

Dan ketika pertama kali membacanya, saya pun sempat berpikir demikian.

Buku ini terasa sangat ringan. Bahkan, ada beberapa bagian yang membuat saya merasa seperti sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk keponakan saya. Saya sempat berpikir, mungkin buku ini memang lebih cocok dibaca ketika masih anak-anak.

Namun, semakin jauh saya membaca, semakin saya merasa bahwa justru karena cerita ini menggunakan sudut pandang seorang anak, saya bisa melihat sesuatu yang selama ini sering luput dari perhatian ketika melihat dunia sebagai orang dewasa.

Ada banyak hal dalam buku ini yang awalnya terasa sederhana, bahkan lucu. Tetapi setelah direnungkan, ternyata cerita-cerita kecil tersebut menyimpan kritik yang cukup dalam terhadap cara manusia dewasa menjalani hidup.

Saya menemukan gambaran tentang manusia dewasa yang sering memaklumi sesuatu hanya karena ingin menghindari konflik. Ada pula gambaran tentang seseorang yang sebenarnya sudah menyadari kesalahannya, tetapi berusaha mengaburkan kesadaran tersebut agar tidak terlalu kecewa kepada dirinya sendiri. Pada akhirnya, kesalahan yang sama justru dapat terus berulang.

Buku ini juga mengingatkan saya tentang bagaimana manusia terkadang tidak bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah mereka lakukan.

Yang menarik, semua itu tidak disampaikan melalui ceramah panjang atau nasihat yang terasa menggurui. Semuanya hadir melalui percakapan dan kisah-kisah sederhana yang mungkin pada awalnya kita anggap sepele.

Justru di situlah kekuatan buku ini.

Beberapa cerita yang saya baca mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk selesai, tetapi pesannya bisa tinggal jauh lebih lama.

Bahkan, ketika saya selesai membaca buku ini, saya tidak langsung merasa mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Kesan pertama saya sebenarnya hanya: buku ini bagus dan saya tidak menyesal sudah membacanya.

Namun ternyata cerita itu tidak berhenti ketika saya menutup bukunya.

Beberapa hari kemudian, saya masih teringat pada kisah-kisah di dalamnya. Beberapa bulan kemudian pun demikian. Ada momen-momen dalam kehidupan sehari-hari yang tiba-tiba membuat saya teringat pada sang pangeran kecil.

Mungkin itulah alasan saya tidak bisa langsung menulis ulasan ini setelah selesai membaca.

Buku ini tidak membuat saya terkesan dengan cara yang mendebarkan. Ia justru bekerja secara perlahan. Ia seperti sebuah cerita sederhana yang diam-diam tinggal di kepala, lalu muncul kembali ketika kehidupan memberikan pengalaman yang membuat saya memahami cerita itu dari sudut pandang yang berbeda.

Setelah mengenal sang pangeran kecil, saya merasa mulai terbiasa melihat kehidupan dari sisi anak kecil yang masih ada dalam diri saya.

Bukan berarti menjadi kekanak-kanakan. Bagi saya, justru sebaliknya. Ada sesuatu yang hilang ketika kita terlalu sibuk menjadi orang dewasa.

Menjadi dewasa sering kali berarti hidup dengan berbagai tuntutan. Kita dituntut untuk benar, berhasil, produktif, matang, dan—entah bagaimana—sempurna. Kesalahan terkadang tidak lagi dianggap sebagai bagian dari proses belajar, tetapi sesuatu yang harus disesali atau bahkan dikutuk.

Padahal, hidup memang tidak pernah benar-benar sempurna.

Mungkin karena menyadari hal itu, setelah membaca The Little Prince, saya menjadi sedikit lebih mudah menerima ketidaksempurnaan. Tidak hanya ketidaksempurnaan orang lain, tetapi juga ketidaksempurnaan diri sendiri.

Saya kemudian teringat pada hubungan sang pangeran kecil dengan mawarnya.

Mawar itu tidak sempurna. Ia cerewet, banyak maunya, dan mungkin cukup merepotkan. Namun, sang pangeran tetap mencintainya.

Dari sana saya belajar bahwa terkadang kita mencintai sesuatu bukan karena sesuatu itu sempurna, tetapi justru karena hubungan, pengalaman, dan makna yang tumbuh di balik ketidaksempurnaan tersebut.

Barangkali, kita juga sering seperti sang pangeran kecil. Kita baru memahami arti sesuatu setelah pergi cukup jauh darinya.

Mungkin jika saya mengenal The Little Prince ketika masih belasan tahun, ulasan saya akan berbeda.

Saya mungkin hanya akan melihatnya sebagai cerita tentang seorang pangeran kecil yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan bertemu dengan orang-orang aneh.

Namun, saya membacanya sekarang, ketika saya sudah cukup lama menjadi orang dewasa dan mulai memahami bahwa menjadi dewasa tidak selalu berarti memahami kehidupan dengan lebih baik.

Kadang-kadang, justru karena terlalu banyak mengetahui, terlalu banyak mempertimbangkan, dan terlalu banyak memikirkan bagaimana seharusnya sesuatu berjalan, kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu dengan sederhana.

Jumat, 07 Agustus 2026

Ulasan Novel Pride and Prejudice karya Jane Austen: Memang Harus Dibaca

Saya membaca buku Pride and Prejudice karya Jane Austen, novel ini adalah salah satu wishlist saya dan saya bahkan sudah membeli buku ini tapi sayang buku yang saya beli berbahasa Inggris. Saya sudah coba baca buku itu (buku dengan bahasa Inggris klasik), tetapi ternyata saya sadar kemampuan bahasa Inggris saya belum cukup untuk membaca tersebut. Saya menghabiskan lebih banyak waktu mencari arti kosakata dalam buku itu dibandingkan membaca buku itu sendiri. Akhirnya, buku itu tersimpan untuk waktu yang lama. Akhirnya 3 hari yang lalu, saya memutuskan untuk puasa media sosial untuk waktu yang belum ditentukan. Kebingungan mengisi waktu luang akibat puasa media sosial mengarahkan saya untuk membaca buku ini. Tentu bukan buku bahasa Inggrisnya, saya belum sanggup memusingkan diri saya dengan kamus tebal sedangkan tujuan utama saya adalah mencari hiburan di waktu luang. Saya membaca buku ini lagi-lagi di aplikasi ipusnas, aplikasi kesayangan saya ketika ingin membaca buku gratis hehe.

Buku ini adalah buku pertama Jane Austen yang saya baca. Sebagai informasi saya sudah menonton film yang diadaptasi dari buku ini juga. Jadi sedikit banyak punya gambaran dan tentu saja spoiler. Saya yakin kemungkinan besar pembaca yang mencari ulasan ini adalah orang yang sedang menimbang apakah ia harus membaca novel ini atau cukup dengan menonton filmnya saja. Semoga ulasan ini bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Sekilas tentang novel ini, Elizabeth adalah anak kedua dari 5 bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Ia hidup di masa pernikahan adalah satu-satunya pencapaian paling tinggi yang bisa didapatkan wanita dalam kehidupan bermasayarakat. Jadi pada masa itu bisa dikatakann bahwa pernikahan adalah tujuan hidup semua perempuan dan menikahkan anak perempuannya dengan pria yang terpandang adalah tujuan hidup semua ibu. Semua itu demi status dan juga keamanan finansial mereka. Elizabeth dan keluarganya berperang untuk menunjukkan martabat, kebanggaan, dan kebenaran atas prasangka mereka. 

Identitas Buku
Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Terbit Pertama Kali: Tahun 1813
Jumlah Halaman: 524

Buku yang saya baca di ipusnas terbitan Qanita terbitan tahun 2014 dan berbahasa Indonesia. Saya selesai membaca buku ini dalam waktu 4 hari waktu yang cukup singkat untuk jumlah halaman tersebut. Percayalah saya menyesal karena baru membaca buku ini setelah sekian lama. Waktu yang Anda habiskan untuk membaca buku ini akan sangat sepadan dengan kesenangan, pesan, dan kesan yang tertinggal setelah membaca buku ini. 

Setelah saya membaca novel ini saya dapat memahami lebih detail masing-masing karakter yang ada di dalam novel ini. Ada sebab tentu ada akibat, kurang lebih seperti itulah penggambaran setiap karakter yang ada di novel ini. Masing-masing tokoh punya pemikiran sendiri dan ada alasan untuk setiap keputusan yang mereka ambil. Hal ini yang tidak saya dapatkan sepenuhnya ketika menonton film ini tetapi saya dapatkan ketika membaca buku ini. Ketika saya membaca buku ini saya jadi memaklumi setiap tindakan tokohnya. Hingga akhirnya saya menyadari tidak ada orang yang benar-benar layak untuk dibenci di dunia ini. 

Selain itu, latar dan konflik yang dihadirkan dalam buku ini memberikan gambaran betapa tertekannya wanita pada masa itu. Mereka dituntut untuk mengikuti standar masyarakat, dianggap menjadi beban keluarga jika tidak/belum mengikuti standar itu dan mirisnya statusmu bisa membuatmu dengan mudah termaafkan meski telah melakukan hal-hal yang dianggap negatif. 

Kemudian, kisah cinta antara Elizabeth dan Mr. Darcy yang menjadi pusat cerita ini membuat saya ikut merasakan malu, salah tingkah, dan berdebar-debar. Jane Austen berhasil membuat saya sebagai pembaca terhanyut dalam kisah cinta Elizabeth dan Mr. Darcy serta merasakan perkembangan karakter mereka secara bertahap.

Melalui buku ini, saya sadar betapa bahayanya sebuah kesombongan dan prasangka. Dengan kesombongan, orang-orang akan kukuh pada penilaiannya yang pasti dianggap benar dan dengan prasangka, semua hal baik akan terlihat sebagai keburukan. Jadi berhati-hatilah dengan kesombongan dan juga prasangka ya. 

Akhirnya saya dengan kesadaran penuh setuju dengan pendapat orang-orang bahwa lebih baik kamu membaca sebuah novel setelah kamu menonton filmnya. Saya yakin Anda akan setuju dengan saya setelah membaca novel ini.

Jangan lupa tinggalkan komentar ya. 





Rabu, 11 Maret 2026

Ulasan Novel Gadis Minimarket: Terjebak dalam Standar 'Normal' Masyarakat

Awalnya, saya membaca Gadis Minimarket karya Sayaka Murata ini sebagai bentuk pelarian positif. Setelah menghapus sebuah aplikasi media sosial berbasis video pendek, saya butuh kegiatan yang lebih bermanfaat untuk mengisi waktu. Seperti biasa meminjam buku ini di platform perpustakaan digital milik pemerintah. Alasan saya membaca buku ini cukup sederhana yaitu sepertinya saya pernah melihat buku ini di suatu konten. Impresi saya, buku yang pernah dibahas dalam sebuah konten pasti punya sesuatu yang menarik dan tugas saya untuk mencari itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung meminjam buku ini.

Sekilas Tentang Buku

Judul: Gadis Minimarket
Judul Bahasa Inggris: Convenience Store Woman
Judul Bahasa Jepang: Konbini Ningen
Karya: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 160 hlm.
Edisi: Digital 2020

Novel ini menceritakan kehidupan Keiko Furukura, perempuan berusia 36 tahun yang melajang dan bekerja paruh waktu di sebuah minimarket. Sedari kecil Keiko merasa bahwa ia tidak sama dengan kebanyakan orang dalam hal pemikiran. Pemikiran ini bertahan hingga ia dewasa. Meski begitu, ia merasa dapat hidup sebagai orang normal ketika bekerja di minimarket. Di sana, buku panduan pegawai menjadi kompasnya dalam bertindak sehingga ia bisa membaur dengan masyarakat terlihat seperti orang normal. Namun, zona nyamannya mulai terusik ketika ia bertemu dengan Shiraha, seorang pria yang juga dianggap "tidak normal" oleh standar lingkungan sekitarnya.

Jujur saja, ketika mulai membaca buku ini saya buta alias nggak baca sinopsis dan nggak tau gambaran cerita novel ini. Makanya ketika mulai membaca, saya sempat bertanya-tanya, apakah novel ini beraliran psikologis? Lambat laun, saya menyadari bahwa penulis sedang mengajak kita menyelami isi kepala orang-orang yang dicap "tidak normal" oleh masyarakat. "Tidak normal" di sini merujuk pada mereka yang tidak memenuhi standar atau ekspektasi umum. Dalam konteks masyarakat Jepang di novel ini, usia matang tetapi masih lajang dan tidak punya pekerjaan tetap adalah wujud nyata ketidaknormalan tersebut. Persis seperti Keiko dan Shiraha.

Menarik melihat bagaimana karakter Keiko berkembang, meskipun saya merasa ada beberapa titik di mana proses pengambilan keputusan pentingnya kurang dieksplorasi. Misalnya, bagaimana pergolakan batin Keiko saat harus berkompromi melepaskan pekerjaannya tidak dijelaskan secara rinci. Di sisi lain, dinamika tokoh pendukung yang ikut berubah merespons perkembangan Keiko patut diapresiasi.

Kekuatan utama novel ini terletak pada kritik sosial terhadap masyarakat Jepang. Murata dengan cerdas menyentil bagaimana masyarakat sering kali memaksakan stereotip. Jika kenyataan seseorang tidak sesuai dengan standar umum, orang-orang di sekitarnya akan berasumsi dan mengarang cerita sendiri agar seolah-olah sesuai dengan stereotip tersebut. Kemudian, dari sini kita belajar sebuah realitas pahit, betapa banyak orang rela mengorbankan jati diri mereka hanya demi diakui sebagai "orang normal" dan memenuhi ekspektasi sosial.

Meski begitu, buku ini bukan tanpa celah di mata saya. Pada bagian awal, deskripsinya terasa terlalu mendetail sehingga alurnya terkesan lambat dan sempat membuat saya ragu untuk lanjut membaca. Selain itu, ending-nya terasa sedikit menggantung. Walaupun pembaca diberi ruang untuk menafsirkan akhir cerita yang cukup melegakan, bagi saya pribadi, itu belum cukup memuaskan rasa penasaran. Sebagai pembaca, saya berharap ada penyelesaian yang lebih gamblang mengenai nasib tokohnya.

Secara keseluruhan, saya sangat merekomendasikan novel ini, khususnya bagi pembaca dewasa yang mungkin sedang mencari identitas diri atau tengah meragukan pilihan hidupnya. Membaca novel ini cukup menampar saya (yang situasinya sedikit banyak relate dengan Keiko) bahwa kita tidak seharusnya mengorbankan kebahagiaan pribadi hanya demi memenuhi tuntutan lingkungan. Pada akhirnya, mensyukuri apa yang membuat kita nyaman adalah hal yang paling penting.

Sekian ulasan dari saya! Buat yang udah baca, gimana nih tanggapannya soal karakter Keiko? Dan buat yang belum, ulasan ini bikin tertarik buat baca juga nggak? Yuk, ramaikan kolom kementarnya, saya pengen tau pendapat kalian! :D


Cari Blog Ini