Awalnya, saya membaca Gadis Minimarket karya
Sayaka Murata ini sebagai bentuk pelarian positif. Setelah menghapus sebuah
aplikasi media sosial berbasis video pendek, saya butuh kegiatan yang lebih
bermanfaat untuk mengisi waktu. Seperti biasa meminjam buku ini di platform
perpustakaan digital milik pemerintah. Alasan saya membaca buku ini cukup
sederhana yaitu sepertinya saya pernah melihat buku ini di suatu konten.
Impresi saya, buku yang pernah dibahas dalam sebuah konten pasti punya sesuatu
yang menarik dan tugas saya untuk mencari itu. Tanpa pikir panjang, saya
langsung meminjam buku ini.
Sekilas Tentang Buku
Judul: Gadis Minimarket
Judul Bahasa Inggris: Convenience Store Woman
Judul Bahasa Jepang: Konbini Ningen
Karya: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 160 hlm.
Edisi: Digital 2020
Novel ini menceritakan kehidupan Keiko
Furukura, perempuan berusia 36 tahun yang melajang dan bekerja paruh waktu di
sebuah minimarket. Sedari kecil Keiko merasa bahwa ia tidak sama dengan
kebanyakan orang dalam hal pemikiran. Pemikiran ini bertahan hingga ia dewasa.
Meski begitu, ia merasa dapat hidup sebagai orang normal ketika bekerja di
minimarket. Di sana, buku panduan pegawai menjadi kompasnya dalam bertindak
sehingga ia bisa membaur dengan masyarakat terlihat seperti orang normal.
Namun, zona nyamannya mulai terusik ketika ia bertemu dengan Shiraha, seorang
pria yang juga dianggap "tidak normal" oleh standar lingkungan
sekitarnya.
Jujur saja, ketika mulai membaca buku ini saya buta alias nggak baca sinopsis dan nggak tau gambaran cerita novel ini. Makanya ketika mulai membaca, saya sempat bertanya-tanya, apakah novel ini beraliran psikologis? Lambat laun, saya menyadari bahwa penulis sedang mengajak kita menyelami isi kepala orang-orang yang dicap "tidak normal" oleh masyarakat. "Tidak normal" di sini merujuk pada mereka yang tidak memenuhi standar atau ekspektasi umum. Dalam konteks masyarakat Jepang di novel ini, usia matang tetapi masih lajang dan tidak punya pekerjaan tetap adalah wujud nyata ketidaknormalan tersebut. Persis seperti Keiko dan Shiraha.
Menarik melihat bagaimana karakter Keiko
berkembang, meskipun saya merasa ada beberapa titik di mana proses pengambilan
keputusan pentingnya kurang dieksplorasi. Misalnya, bagaimana pergolakan batin
Keiko saat harus berkompromi melepaskan pekerjaannya tidak dijelaskan secara
rinci. Di sisi lain, dinamika tokoh pendukung yang ikut berubah merespons
perkembangan Keiko patut diapresiasi.
Kekuatan utama novel ini terletak pada kritik
sosial terhadap masyarakat Jepang. Murata dengan cerdas menyentil bagaimana
masyarakat sering kali memaksakan stereotip. Jika kenyataan seseorang tidak
sesuai dengan standar umum, orang-orang di sekitarnya akan berasumsi dan
mengarang cerita sendiri agar seolah-olah sesuai dengan stereotip tersebut.
Kemudian, dari sini kita belajar sebuah realitas pahit, betapa banyak orang
rela mengorbankan jati diri mereka hanya demi diakui sebagai "orang
normal" dan memenuhi ekspektasi sosial.
Meski begitu, buku ini bukan tanpa celah di
mata saya. Pada bagian awal, deskripsinya terasa terlalu mendetail sehingga
alurnya terkesan lambat dan sempat membuat saya ragu untuk lanjut membaca.
Selain itu, ending-nya terasa sedikit menggantung. Walaupun pembaca diberi
ruang untuk menafsirkan akhir cerita yang cukup melegakan, bagi saya pribadi,
itu belum cukup memuaskan rasa penasaran. Sebagai pembaca, saya berharap ada
penyelesaian yang lebih gamblang mengenai nasib tokohnya.
Secara keseluruhan, saya sangat merekomendasikan novel ini, khususnya bagi pembaca dewasa yang mungkin sedang mencari identitas diri atau tengah meragukan pilihan hidupnya. Membaca novel ini cukup menampar saya (yang situasinya sedikit banyak relate dengan Keiko) bahwa kita tidak seharusnya mengorbankan kebahagiaan pribadi hanya demi memenuhi tuntutan lingkungan. Pada akhirnya, mensyukuri apa yang membuat kita nyaman adalah hal yang paling penting.
Sekian ulasan dari saya! Buat yang udah baca, gimana nih tanggapannya soal karakter Keiko? Dan buat yang belum, ulasan ini bikin tertarik buat baca juga nggak? Yuk, ramaikan kolom kementarnya, saya pengen tau pendapat kalian! :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar