Saya membaca buku Pride and Prejudice karya Jane Austin, novel ini adalah salah satu wishlist saya dan bahkan saya sudah membeli buku ini tapi sayang buku yang saya beli berbahasa Inggris. Saya sudah coba baca buku itu (buku dengan bahasa Inggris klasik), tetapi ternyata saya sadar kemampuan bahasa Inggris saya belum cukup untuk membaca tersebut. Saya menghabiskan lebih banyak waktu mencari arti kosakata dalam buku itu dibandingkan membaca buku itu sendiri. Akhirnya, buku itu tersimpan untuk waktu yang lama. Akhirnya 3 hari yang lalu, saya memutuskan untuk puasa media sosial untuk waktu yang belum ditentukan. Kebingungan mengisi waktu luang akibat puasa media sosial mengarahkan saya untuk membaca buku ini. Tentu bukan buku bahasa Inggrisnya, saya belum sanggup memusingkan diri saya dengan kamus tebal sedangkan tujuan utama saya adalah mencari hiburan di waktu luang. Saya membaca buku ini lagi-lagi di aplikasi ipusnas, aplikasi kesayangan saya ketika ingin membaca buku gratis hehe.
Buku ini adalah buku pertama Jane Austen yang saya baca. Sebagai informasi saya sudah menonton film yang diadaptasi dari buku ini juga. Jadi sedikit banyak punya gambaran dan tentu saja spoiler. Saya yakin kemungkinan besar pembaca yang mencari ulasan ini adalah orang yang sedang menimbang apakah ia harus membaca novel ini atau cukup dengan menonton filmnya saja. Semoga ulasan ini bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Sekilas tentang novel ini, Elizabeth adalah anak kedua dari 5 bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Ia hidup di masa pernikahan adalah satu-satunya pencapaian paling tinggi yang bisa didapatkan wanita dalam kehidupan bermasayarakat. Jadi pada masa itu bisa dikatakann bahwa pernikahan adalah tujuan hidup semua perempuan dan menikahkan anak perempuannya dengan pria yang terpandang adalah tujuan hidup semua ibu. Semua itu demi status dan juga keamanan finansial mereka. Elizabeth dan keluarganya berperang untuk menunjukkan martabat, kebanggaan, dan kebenaran atas prasangka mereka.
Identitas BukuJudul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Terbit Pertama Kali: Tahun 1813
Jumlah Halaman: 524
Buku yang saya baca di ipusnas terbitan Qanita terbitan tahun 2014 dan berbahasa Indonesia. Saya selesai membaca buku ini dalam waktu 4 hari waktu yang cukup singkat untuk jumlah halaman tersebut. Percayalah saya menyesal karena baru membaca buku ini setelah sekian lama. Waktu yang Anda habiskan untuk membaca buku ini akan sangat sepadan dengan kesenangan, pesan, dan kesan yang tertinggal setelah membaca buku ini.
Setelah saya membaca novel ini saya dapat memahami lebih detail masing-masing karakter yang ada di dalam novel ini. Ada sebab tentu ada akibat, kurang lebih seperti itulah penggambaran setiap karakter yang ada di novel ini. Masing-masing tokoh punya pemikiran sendiri dan ada alasan untuk setiap keputusan yang mereka ambil. Hal ini yang tidak saya dapatkan sepenuhnya ketika menonton film ini tetapi saya dapatkan ketika membaca buku ini. Ketika saya membaca buku ini saya jadi memaklumi setiap tindakan tokohnya. Hingga akhirnya saya menyadari tidak ada orang yang benar-benar layak untuk dibenci di dunia ini.
Selain itu, latar dan konflik yang dihadirkan dalam buku ini memberikan gambaran betapa tertekannya wanita pada masa itu. Mereka dituntut untuk mengikuti standar masyarakat, dianggap menjadi beban keluarga jika tidak/belum mengikuti standar itu dan mirisnya statusmu bisa membuatmu dengan mudah termaafkan meski telah melakukan hal-hal yang dianggap negatif.
Kemudian, kisah cinta antara Elizabeth dan Mr. Darcy yang menjadi pusat cerita ini membuat saya ikut merasakan malu, salah tingkah, dan berdebar-debar. Jane Austen berhasil membuat saya sebagai pembaca terhanyut dalam kisah cinta Elizabeth dan Mr. Darcy serta merasakan perkembangan karakter mereka secara bertahap.
Melalui buku ini, saya sadar betapa bahayanya sebuah kesombongan dan prasangka. Dengan kesombongan, orang-orang akan kukuh pada penilaiannya yang pasti dianggap benar dan dengan prasangka, semua hal baik akan terlihat sebagai keburukan. Jadi berhati-hatilah dengan kesombongan dan juga prasangka ya.
Akhirnya saya dengan kesadaran penuh setuju dengan pendapat orang-orang bahwa lebih baik kamu membaca sebuah novel setelah kamu menonton filmnya. Saya yakin Anda akan setuju dengan saya setelah membaca novel ini.
Jangan lupa tinggalkan komentar ya.