Saya akhirnya membaca The Little Prince setelah cukup lama mencari judul buku yang tepat untuk mengisi waktu luang saat mengantre di klinik. Sebenarnya, buku ini sudah lama saya beli. Hanya saja, hati saya belum benar-benar tergerak untuk membacanya. Salah satu alasannya sederhana: saya takut kecewa.
Saya takut buku ini tidak akan sehebat yang selama ini saya baca dari berbagai ulasan. Pengalaman saya, buku yang dipuji sangat bagus oleh banyak reviewer terkadang justru terasa biasa saja setelah selesai saya baca. Mungkin memang soal selera. Setiap orang tentu punya pengalaman membaca dan cara memaknai cerita yang berbeda.
Saya bahkan pernah bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah saya kurang peka? Mengapa pesan-pesan mendalam yang ditemukan orang lain dalam sebuah buku terkadang tidak saya rasakan dengan cara yang sama?
Lalu, apa yang terjadi setelah saya membaca The Little Prince? Apakah buku ini memang sehebat yang dikatakan banyak orang? Atau kali ini saya justru akan kembali tidak menemukan sesuatu yang istimewa?
Ternyata, jawabannya baru benar-benar saya pahami beberapa bulan kemudian.
Identitas Buku
Judul Asli: Le Petit Prince
Judul Bahasa Inggris: The Little Prince
Judul Bahasa Indonesia: Pangeran Cilik/ Pangeran Kecil
Penulis dan Ilustrator: Antoine de Saint-Exupery
Bahasa Asli: Perancis
Tahun Terbit Pertama:1943
Edisi: HUT GPU 50 Tahun
The Little Prince bercerita tentang seorang penerbang yang mengalami kerusakan pesawat di tengah gurun. Di tempat itulah ia bertemu dengan seorang pangeran cilik. Selama mereka bersama, sang penerbang mendengar berbagai kisah tentang kehidupan pangeran kecil tersebut.
Ia bercerita tentang planet kecil tempat tinggalnya, tentang seekor mawar yang cerewet dan banyak maunya, serta tentang perjalanan mengunjungi berbagai planet sebelum akhirnya sampai di Bumi.
Jika hanya melihat premisnya, cerita ini memang terdengar seperti dongeng anak-anak.
Dan ketika pertama kali membacanya, saya pun sempat berpikir demikian.
Buku ini terasa sangat ringan. Bahkan, ada beberapa bagian yang membuat saya merasa seperti sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk keponakan saya. Saya sempat berpikir, mungkin buku ini memang lebih cocok dibaca ketika masih anak-anak.
Namun, semakin jauh saya membaca, semakin saya merasa bahwa justru karena cerita ini menggunakan sudut pandang seorang anak, saya bisa melihat sesuatu yang selama ini sering luput dari perhatian ketika melihat dunia sebagai orang dewasa.
Ada banyak hal dalam buku ini yang awalnya terasa sederhana, bahkan lucu. Tetapi setelah direnungkan, ternyata cerita-cerita kecil tersebut menyimpan kritik yang cukup dalam terhadap cara manusia dewasa menjalani hidup.
Saya menemukan gambaran tentang manusia dewasa yang sering memaklumi sesuatu hanya karena ingin menghindari konflik. Ada pula gambaran tentang seseorang yang sebenarnya sudah menyadari kesalahannya, tetapi berusaha mengaburkan kesadaran tersebut agar tidak terlalu kecewa kepada dirinya sendiri. Pada akhirnya, kesalahan yang sama justru dapat terus berulang.
Buku ini juga mengingatkan saya tentang bagaimana manusia terkadang tidak bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah mereka lakukan.
Yang menarik, semua itu tidak disampaikan melalui ceramah panjang atau nasihat yang terasa menggurui. Semuanya hadir melalui percakapan dan kisah-kisah sederhana yang mungkin pada awalnya kita anggap sepele.
Justru di situlah kekuatan buku ini.
Beberapa cerita yang saya baca mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk selesai, tetapi pesannya bisa tinggal jauh lebih lama.
Bahkan, ketika saya selesai membaca buku ini, saya tidak langsung merasa mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Kesan pertama saya sebenarnya hanya: buku ini bagus dan saya tidak menyesal sudah membacanya.
Namun ternyata cerita itu tidak berhenti ketika saya menutup bukunya.
Beberapa hari kemudian, saya masih teringat pada kisah-kisah di dalamnya. Beberapa bulan kemudian pun demikian. Ada momen-momen dalam kehidupan sehari-hari yang tiba-tiba membuat saya teringat pada sang pangeran kecil.
Mungkin itulah alasan saya tidak bisa langsung menulis ulasan ini setelah selesai membaca.
Buku ini tidak membuat saya terkesan dengan cara yang mendebarkan. Ia justru bekerja secara perlahan. Ia seperti sebuah cerita sederhana yang diam-diam tinggal di kepala, lalu muncul kembali ketika kehidupan memberikan pengalaman yang membuat saya memahami cerita itu dari sudut pandang yang berbeda.
Setelah mengenal sang pangeran kecil, saya merasa mulai terbiasa melihat kehidupan dari sisi anak kecil yang masih ada dalam diri saya.
Bukan berarti menjadi kekanak-kanakan. Bagi saya, justru sebaliknya. Ada sesuatu yang hilang ketika kita terlalu sibuk menjadi orang dewasa.
Menjadi dewasa sering kali berarti hidup dengan berbagai tuntutan. Kita dituntut untuk benar, berhasil, produktif, matang, dan—entah bagaimana—sempurna. Kesalahan terkadang tidak lagi dianggap sebagai bagian dari proses belajar, tetapi sesuatu yang harus disesali atau bahkan dikutuk.
Padahal, hidup memang tidak pernah benar-benar sempurna.
Mungkin karena menyadari hal itu, setelah membaca The Little Prince, saya menjadi sedikit lebih mudah menerima ketidaksempurnaan. Tidak hanya ketidaksempurnaan orang lain, tetapi juga ketidaksempurnaan diri sendiri.
Saya kemudian teringat pada hubungan sang pangeran kecil dengan mawarnya.
Mawar itu tidak sempurna. Ia cerewet, banyak maunya, dan mungkin cukup merepotkan. Namun, sang pangeran tetap mencintainya.
Dari sana saya belajar bahwa terkadang kita mencintai sesuatu bukan karena sesuatu itu sempurna, tetapi justru karena hubungan, pengalaman, dan makna yang tumbuh di balik ketidaksempurnaan tersebut.
Barangkali, kita juga sering seperti sang pangeran kecil. Kita baru memahami arti sesuatu setelah pergi cukup jauh darinya.
Mungkin jika saya mengenal The Little Prince ketika masih belasan tahun, ulasan saya akan berbeda.
Saya mungkin hanya akan melihatnya sebagai cerita tentang seorang pangeran kecil yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan bertemu dengan orang-orang aneh.
Namun, saya membacanya sekarang, ketika saya sudah cukup lama menjadi orang dewasa dan mulai memahami bahwa menjadi dewasa tidak selalu berarti memahami kehidupan dengan lebih baik.
Kadang-kadang, justru karena terlalu banyak mengetahui, terlalu banyak mempertimbangkan, dan terlalu banyak memikirkan bagaimana seharusnya sesuatu berjalan, kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu dengan sederhana.
