Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2026

Ulasan Novel The Little Prince (Pangeran Kecil) Karya Antoine de Saint-Exupery: Buku Sederhana dengan Nilai yang Tidak Sederhana

Saya akhirnya membaca The Little Prince setelah cukup lama mencari judul buku yang tepat untuk mengisi waktu luang saat mengantre di klinik. Sebenarnya, buku ini sudah lama saya beli. Hanya saja, hati saya belum benar-benar tergerak untuk membacanya. Salah satu alasannya sederhana: saya takut kecewa.

Saya takut buku ini tidak akan sehebat yang selama ini saya baca dari berbagai ulasan. Pengalaman saya, buku yang dipuji sangat bagus oleh banyak reviewer terkadang justru terasa biasa saja setelah selesai saya baca. Mungkin memang soal selera. Setiap orang tentu punya pengalaman membaca dan cara memaknai cerita yang berbeda.

Saya bahkan pernah bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah saya kurang peka? Mengapa pesan-pesan mendalam yang ditemukan orang lain dalam sebuah buku terkadang tidak saya rasakan dengan cara yang sama?

Lalu, apa yang terjadi setelah saya membaca The Little Prince? Apakah buku ini memang sehebat yang dikatakan banyak orang? Atau kali ini saya justru akan kembali tidak menemukan sesuatu yang istimewa?

Ternyata, jawabannya baru benar-benar saya pahami beberapa bulan kemudian.

Identitas Buku
Judul Asli: Le Petit Prince
Judul Bahasa Inggris: The Little Prince
Judul Bahasa Indonesia: Pangeran Cilik/ Pangeran Kecil
Penulis dan Ilustrator: Antoine de Saint-Exupery
Bahasa Asli: Perancis
Tahun Terbit Pertama:1943
Edisi: HUT GPU 50 Tahun

The Little Prince bercerita tentang seorang penerbang yang mengalami kerusakan pesawat di tengah gurun. Di tempat itulah ia bertemu dengan seorang pangeran cilik. Selama mereka bersama, sang penerbang mendengar berbagai kisah tentang kehidupan pangeran kecil tersebut.

Ia bercerita tentang planet kecil tempat tinggalnya, tentang seekor mawar yang cerewet dan banyak maunya, serta tentang perjalanan mengunjungi berbagai planet sebelum akhirnya sampai di Bumi.

Jika hanya melihat premisnya, cerita ini memang terdengar seperti dongeng anak-anak.

Dan ketika pertama kali membacanya, saya pun sempat berpikir demikian.

Buku ini terasa sangat ringan. Bahkan, ada beberapa bagian yang membuat saya merasa seperti sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk keponakan saya. Saya sempat berpikir, mungkin buku ini memang lebih cocok dibaca ketika masih anak-anak.

Namun, semakin jauh saya membaca, semakin saya merasa bahwa justru karena cerita ini menggunakan sudut pandang seorang anak, saya bisa melihat sesuatu yang selama ini sering luput dari perhatian ketika melihat dunia sebagai orang dewasa.

Ada banyak hal dalam buku ini yang awalnya terasa sederhana, bahkan lucu. Tetapi setelah direnungkan, ternyata cerita-cerita kecil tersebut menyimpan kritik yang cukup dalam terhadap cara manusia dewasa menjalani hidup.

Saya menemukan gambaran tentang manusia dewasa yang sering memaklumi sesuatu hanya karena ingin menghindari konflik. Ada pula gambaran tentang seseorang yang sebenarnya sudah menyadari kesalahannya, tetapi berusaha mengaburkan kesadaran tersebut agar tidak terlalu kecewa kepada dirinya sendiri. Pada akhirnya, kesalahan yang sama justru dapat terus berulang.

Buku ini juga mengingatkan saya tentang bagaimana manusia terkadang tidak bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah mereka lakukan.

Yang menarik, semua itu tidak disampaikan melalui ceramah panjang atau nasihat yang terasa menggurui. Semuanya hadir melalui percakapan dan kisah-kisah sederhana yang mungkin pada awalnya kita anggap sepele.

Justru di situlah kekuatan buku ini.

Beberapa cerita yang saya baca mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk selesai, tetapi pesannya bisa tinggal jauh lebih lama.

Bahkan, ketika saya selesai membaca buku ini, saya tidak langsung merasa mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Kesan pertama saya sebenarnya hanya: buku ini bagus dan saya tidak menyesal sudah membacanya.

Namun ternyata cerita itu tidak berhenti ketika saya menutup bukunya.

Beberapa hari kemudian, saya masih teringat pada kisah-kisah di dalamnya. Beberapa bulan kemudian pun demikian. Ada momen-momen dalam kehidupan sehari-hari yang tiba-tiba membuat saya teringat pada sang pangeran kecil.

Mungkin itulah alasan saya tidak bisa langsung menulis ulasan ini setelah selesai membaca.

Buku ini tidak membuat saya terkesan dengan cara yang mendebarkan. Ia justru bekerja secara perlahan. Ia seperti sebuah cerita sederhana yang diam-diam tinggal di kepala, lalu muncul kembali ketika kehidupan memberikan pengalaman yang membuat saya memahami cerita itu dari sudut pandang yang berbeda.

Setelah mengenal sang pangeran kecil, saya merasa mulai terbiasa melihat kehidupan dari sisi anak kecil yang masih ada dalam diri saya.

Bukan berarti menjadi kekanak-kanakan. Bagi saya, justru sebaliknya. Ada sesuatu yang hilang ketika kita terlalu sibuk menjadi orang dewasa.

Menjadi dewasa sering kali berarti hidup dengan berbagai tuntutan. Kita dituntut untuk benar, berhasil, produktif, matang, dan—entah bagaimana—sempurna. Kesalahan terkadang tidak lagi dianggap sebagai bagian dari proses belajar, tetapi sesuatu yang harus disesali atau bahkan dikutuk.

Padahal, hidup memang tidak pernah benar-benar sempurna.

Mungkin karena menyadari hal itu, setelah membaca The Little Prince, saya menjadi sedikit lebih mudah menerima ketidaksempurnaan. Tidak hanya ketidaksempurnaan orang lain, tetapi juga ketidaksempurnaan diri sendiri.

Saya kemudian teringat pada hubungan sang pangeran kecil dengan mawarnya.

Mawar itu tidak sempurna. Ia cerewet, banyak maunya, dan mungkin cukup merepotkan. Namun, sang pangeran tetap mencintainya.

Dari sana saya belajar bahwa terkadang kita mencintai sesuatu bukan karena sesuatu itu sempurna, tetapi justru karena hubungan, pengalaman, dan makna yang tumbuh di balik ketidaksempurnaan tersebut.

Barangkali, kita juga sering seperti sang pangeran kecil. Kita baru memahami arti sesuatu setelah pergi cukup jauh darinya.

Mungkin jika saya mengenal The Little Prince ketika masih belasan tahun, ulasan saya akan berbeda.

Saya mungkin hanya akan melihatnya sebagai cerita tentang seorang pangeran kecil yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan bertemu dengan orang-orang aneh.

Namun, saya membacanya sekarang, ketika saya sudah cukup lama menjadi orang dewasa dan mulai memahami bahwa menjadi dewasa tidak selalu berarti memahami kehidupan dengan lebih baik.

Kadang-kadang, justru karena terlalu banyak mengetahui, terlalu banyak mempertimbangkan, dan terlalu banyak memikirkan bagaimana seharusnya sesuatu berjalan, kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu dengan sederhana.

Jumat, 07 Agustus 2026

Ulasan Novel Pride and Prejudice karya Jane Austen: Memang Harus Dibaca

Saya membaca buku Pride and Prejudice karya Jane Austen, novel ini adalah salah satu wishlist saya dan saya bahkan sudah membeli buku ini tapi sayang buku yang saya beli berbahasa Inggris. Saya sudah coba baca buku itu (buku dengan bahasa Inggris klasik), tetapi ternyata saya sadar kemampuan bahasa Inggris saya belum cukup untuk membaca tersebut. Saya menghabiskan lebih banyak waktu mencari arti kosakata dalam buku itu dibandingkan membaca buku itu sendiri. Akhirnya, buku itu tersimpan untuk waktu yang lama. Akhirnya 3 hari yang lalu, saya memutuskan untuk puasa media sosial untuk waktu yang belum ditentukan. Kebingungan mengisi waktu luang akibat puasa media sosial mengarahkan saya untuk membaca buku ini. Tentu bukan buku bahasa Inggrisnya, saya belum sanggup memusingkan diri saya dengan kamus tebal sedangkan tujuan utama saya adalah mencari hiburan di waktu luang. Saya membaca buku ini lagi-lagi di aplikasi ipusnas, aplikasi kesayangan saya ketika ingin membaca buku gratis hehe.

Buku ini adalah buku pertama Jane Austen yang saya baca. Sebagai informasi saya sudah menonton film yang diadaptasi dari buku ini juga. Jadi sedikit banyak punya gambaran dan tentu saja spoiler. Saya yakin kemungkinan besar pembaca yang mencari ulasan ini adalah orang yang sedang menimbang apakah ia harus membaca novel ini atau cukup dengan menonton filmnya saja. Semoga ulasan ini bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Sekilas tentang novel ini, Elizabeth adalah anak kedua dari 5 bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Ia hidup di masa pernikahan adalah satu-satunya pencapaian paling tinggi yang bisa didapatkan wanita dalam kehidupan bermasayarakat. Jadi pada masa itu bisa dikatakann bahwa pernikahan adalah tujuan hidup semua perempuan dan menikahkan anak perempuannya dengan pria yang terpandang adalah tujuan hidup semua ibu. Semua itu demi status dan juga keamanan finansial mereka. Elizabeth dan keluarganya berperang untuk menunjukkan martabat, kebanggaan, dan kebenaran atas prasangka mereka. 

Identitas Buku
Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Terbit Pertama Kali: Tahun 1813
Jumlah Halaman: 524

Buku yang saya baca di ipusnas terbitan Qanita terbitan tahun 2014 dan berbahasa Indonesia. Saya selesai membaca buku ini dalam waktu 4 hari waktu yang cukup singkat untuk jumlah halaman tersebut. Percayalah saya menyesal karena baru membaca buku ini setelah sekian lama. Waktu yang Anda habiskan untuk membaca buku ini akan sangat sepadan dengan kesenangan, pesan, dan kesan yang tertinggal setelah membaca buku ini. 

Setelah saya membaca novel ini saya dapat memahami lebih detail masing-masing karakter yang ada di dalam novel ini. Ada sebab tentu ada akibat, kurang lebih seperti itulah penggambaran setiap karakter yang ada di novel ini. Masing-masing tokoh punya pemikiran sendiri dan ada alasan untuk setiap keputusan yang mereka ambil. Hal ini yang tidak saya dapatkan sepenuhnya ketika menonton film ini tetapi saya dapatkan ketika membaca buku ini. Ketika saya membaca buku ini saya jadi memaklumi setiap tindakan tokohnya. Hingga akhirnya saya menyadari tidak ada orang yang benar-benar layak untuk dibenci di dunia ini. 

Selain itu, latar dan konflik yang dihadirkan dalam buku ini memberikan gambaran betapa tertekannya wanita pada masa itu. Mereka dituntut untuk mengikuti standar masyarakat, dianggap menjadi beban keluarga jika tidak/belum mengikuti standar itu dan mirisnya statusmu bisa membuatmu dengan mudah termaafkan meski telah melakukan hal-hal yang dianggap negatif. 

Kemudian, kisah cinta antara Elizabeth dan Mr. Darcy yang menjadi pusat cerita ini membuat saya ikut merasakan malu, salah tingkah, dan berdebar-debar. Jane Austen berhasil membuat saya sebagai pembaca terhanyut dalam kisah cinta Elizabeth dan Mr. Darcy serta merasakan perkembangan karakter mereka secara bertahap.

Melalui buku ini, saya sadar betapa bahayanya sebuah kesombongan dan prasangka. Dengan kesombongan, orang-orang akan kukuh pada penilaiannya yang pasti dianggap benar dan dengan prasangka, semua hal baik akan terlihat sebagai keburukan. Jadi berhati-hatilah dengan kesombongan dan juga prasangka ya. 

Akhirnya saya dengan kesadaran penuh setuju dengan pendapat orang-orang bahwa lebih baik kamu membaca sebuah novel setelah kamu menonton filmnya. Saya yakin Anda akan setuju dengan saya setelah membaca novel ini.

Jangan lupa tinggalkan komentar ya. 





Rabu, 11 Maret 2026

Ulasan Novel Gadis Minimarket: Terjebak dalam Standar 'Normal' Masyarakat

Awalnya, saya membaca Gadis Minimarket karya Sayaka Murata ini sebagai bentuk pelarian positif. Setelah menghapus sebuah aplikasi media sosial berbasis video pendek, saya butuh kegiatan yang lebih bermanfaat untuk mengisi waktu. Seperti biasa meminjam buku ini di platform perpustakaan digital milik pemerintah. Alasan saya membaca buku ini cukup sederhana yaitu sepertinya saya pernah melihat buku ini di suatu konten. Impresi saya, buku yang pernah dibahas dalam sebuah konten pasti punya sesuatu yang menarik dan tugas saya untuk mencari itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung meminjam buku ini.

Sekilas Tentang Buku

Judul: Gadis Minimarket
Judul Bahasa Inggris: Convenience Store Woman
Judul Bahasa Jepang: Konbini Ningen
Karya: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 160 hlm.
Edisi: Digital 2020

Novel ini menceritakan kehidupan Keiko Furukura, perempuan berusia 36 tahun yang melajang dan bekerja paruh waktu di sebuah minimarket. Sedari kecil Keiko merasa bahwa ia tidak sama dengan kebanyakan orang dalam hal pemikiran. Pemikiran ini bertahan hingga ia dewasa. Meski begitu, ia merasa dapat hidup sebagai orang normal ketika bekerja di minimarket. Di sana, buku panduan pegawai menjadi kompasnya dalam bertindak sehingga ia bisa membaur dengan masyarakat terlihat seperti orang normal. Namun, zona nyamannya mulai terusik ketika ia bertemu dengan Shiraha, seorang pria yang juga dianggap "tidak normal" oleh standar lingkungan sekitarnya.

Jujur saja, ketika mulai membaca buku ini saya buta alias nggak baca sinopsis dan nggak tau gambaran cerita novel ini. Makanya ketika mulai membaca, saya sempat bertanya-tanya, apakah novel ini beraliran psikologis? Lambat laun, saya menyadari bahwa penulis sedang mengajak kita menyelami isi kepala orang-orang yang dicap "tidak normal" oleh masyarakat. "Tidak normal" di sini merujuk pada mereka yang tidak memenuhi standar atau ekspektasi umum. Dalam konteks masyarakat Jepang di novel ini, usia matang tetapi masih lajang dan tidak punya pekerjaan tetap adalah wujud nyata ketidaknormalan tersebut. Persis seperti Keiko dan Shiraha.

Menarik melihat bagaimana karakter Keiko berkembang, meskipun saya merasa ada beberapa titik di mana proses pengambilan keputusan pentingnya kurang dieksplorasi. Misalnya, bagaimana pergolakan batin Keiko saat harus berkompromi melepaskan pekerjaannya tidak dijelaskan secara rinci. Di sisi lain, dinamika tokoh pendukung yang ikut berubah merespons perkembangan Keiko patut diapresiasi.

Kekuatan utama novel ini terletak pada kritik sosial terhadap masyarakat Jepang. Murata dengan cerdas menyentil bagaimana masyarakat sering kali memaksakan stereotip. Jika kenyataan seseorang tidak sesuai dengan standar umum, orang-orang di sekitarnya akan berasumsi dan mengarang cerita sendiri agar seolah-olah sesuai dengan stereotip tersebut. Kemudian, dari sini kita belajar sebuah realitas pahit, betapa banyak orang rela mengorbankan jati diri mereka hanya demi diakui sebagai "orang normal" dan memenuhi ekspektasi sosial.

Meski begitu, buku ini bukan tanpa celah di mata saya. Pada bagian awal, deskripsinya terasa terlalu mendetail sehingga alurnya terkesan lambat dan sempat membuat saya ragu untuk lanjut membaca. Selain itu, ending-nya terasa sedikit menggantung. Walaupun pembaca diberi ruang untuk menafsirkan akhir cerita yang cukup melegakan, bagi saya pribadi, itu belum cukup memuaskan rasa penasaran. Sebagai pembaca, saya berharap ada penyelesaian yang lebih gamblang mengenai nasib tokohnya.

Secara keseluruhan, saya sangat merekomendasikan novel ini, khususnya bagi pembaca dewasa yang mungkin sedang mencari identitas diri atau tengah meragukan pilihan hidupnya. Membaca novel ini cukup menampar saya (yang situasinya sedikit banyak relate dengan Keiko) bahwa kita tidak seharusnya mengorbankan kebahagiaan pribadi hanya demi memenuhi tuntutan lingkungan. Pada akhirnya, mensyukuri apa yang membuat kita nyaman adalah hal yang paling penting.

Sekian ulasan dari saya! Buat yang udah baca, gimana nih tanggapannya soal karakter Keiko? Dan buat yang belum, ulasan ini bikin tertarik buat baca juga nggak? Yuk, ramaikan kolom kementarnya, saya pengen tau pendapat kalian! :D


Kamis, 12 Juni 2025

Ulasan Novel Resign! karya Almira Bastari: Bacaan Ringan yang Menghibur di Tengah Antrian Rumah Sakit

Identitas Buku:
Judul: Resign!
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2018

Setelah sebelumnya membaca Cinta Lama karya Puthut EA dan merasa puas dengan kesederhanaan serta kedalaman ceritanya, saya memutuskan untuk membuka halaman pertama Resign! karya Almira Bastari. Awalnya, saya tidak menaruh ekspektasi tinggi—hanya ingin mencari bacaan ringan sebagai teman menunggu antrean di rumah sakit. Namun, pengalaman membaca buku ini ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan.

Saya baru membaca sekitar 50 halaman ketika nama saya dipanggil oleh perawat, dan bacaan ini pun terpaksa terhenti. Beberapa hari kemudian, saat kembali kontrol ke rumah sakit, saya teringat belum menyelesaikannya. Saya lanjut membaca sembari menunggu giliran. Tanpa disangka, saya begitu tenggelam dalam cerita hingga tidak sadar nama saya dipanggil beberapa kali oleh perawat untuk mengonfirmasi sesuatu. Saat itulah saya sadar: buku ini berhasil membawa saya masuk ke dalam dunianya.

Resign! menyajikan kisah dengan premis yang cukup sederhana—cerita “benci jadi cinta”—namun dikemas dengan pendekatan slow burn yang menarik. Almira Bastari dengan cermat membangun dinamika hubungan antar tokoh secara perlahan, sehingga pembaca bisa menikmati perkembangan emosi dan konflik tanpa terburu-buru. Meskipun alurnya cenderung mudah ditebak, saya tetap terdorong untuk menyelesaikannya karena penasaran dengan perjalanan para tokohnya, bukan semata-mata akhirnya.

Di beberapa bagian, mungkin ada detail cerita yang terasa kurang padat atau kurang terjelaskan, tetapi hal itu tidak mengganggu kenikmatan membaca secara keseluruhan. Justru kesederhanaan dan gaya bertuturnya yang ringan membuat novel ini cocok untuk pembaca yang sedang mencari hiburan, tanpa perlu menganalisis plot yang rumit atau makna simbolik yang dalam.

Lebih dari itu, Resign! terasa relevan dengan kehidupan para pekerja kantoran yang hampir setiap hari bercanda ingin mengundurkan diri, tapi tetap bertahan demi rutinitas dan tanggung jawab. Cerita ini ringan, menyenangkan, dan bisa membuat senyum-senyum sendiri—cocok dibaca saat sedang menunggu, ingin santai sejenak, atau butuh selingan dari bacaan yang berat. Dan siapa tahu, seperti saya, kamu pun akan hanyut dalam cerita sampai lupa sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit.

Kalau kamu sudah pernah baca Resign! juga, yuk bagikan pendapatmu di kolom komentar—apakah kamu juga sempat senyum-senyum sendiri seperti saya? Atau malah punya tokoh favorit yang bikin nggak rela ceritanya cepat selesai?

Dan kalau kamu punya rekomendasi bacaan ringan lain yang cocok untuk menemani antrean di rumah sakit atau saat butuh hiburan singkat, saya juga sangat terbuka! Silakan tulis judul bukunya di kolom komentar. Siapa tahu bisa jadi bacaan saya berikutnya saat kontrol selanjutnya. 😊

Senin, 02 Juni 2025

Ulasan Novel Cinta Lama Karya PUTHUT EA

  

Identitas Buku:
Judul: Cinta Lama
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2020

Saya mulai tertarik membaca karya Puthut EA setelah menikmati cerpennya yang berjudul Sesaat Sebelum Berangkat. Cerpen itu begitu sederhana, namun sarat makna dan berhasil menyentuh sisi emosional saya tanpa perlu berpanjang lebar. Karena itulah, ketika menemukan Cinta Lama, saya langsung penasaran dan ingin tahu bagaimana Puthut EA bercerita dalam bentuk novel.

Novel Cinta Lama sangat cocok dibaca dalam situasi santai seperti saat menunggu antrean, duduk di kedai kopi, atau ketika ingin mengisi waktu luang. (Saya membaca novel ini ketika menunggu antrean di rumah sakit) Buku ini bisa selesai dibaca dalam sekali duduk, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam. Salah satu kekuatan novel ini terletak pada gaya berceritanya yang khas: minim narasi, namun sarat dialog. Dialog-dialog antar tokohnya terasa intens, hidup, dan membawa pembaca langsung ke dalam suasana batin para karakter tanpa harus dijelaskan secara panjang lebar. Narasinya singkat, tetapi cukup untuk membuat kita paham tentang latar, konflik, dan emosi yang bergulir.

Ilustrasi dalam novel ini juga menjadi nilai tambah. Gaya ilustrasinya menggambarkan suasana 'dewasa lama'—seperti orang-orang berusia akhir 30-an atau 40-an yang sedang mengenang masa lalu, menimbang keputusan, atau sekadar berbincang sambil menyeruput kopi. Vibes-nya hangat dan tenang, namun tetap menyimpan gejolak yang khas dari cinta yang datang kembali setelah waktu yang lama.

Secara keseluruhan, Cinta Lama adalah novel sederhana yang jujur dan menyentuh. Bagi saya, ini bukan hanya soal kisah cinta, tetapi juga tentang refleksi, keheningan, dan bagaimana manusia memaknai pertemuan dan masa lalu. Puthut EA berhasil menyampaikan semuanya dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Saya suka kesederhanaan yang tidak sederhana dari novel ini.

Berikut sinopsis singkat buku ini yang saya kutip dari platform ipusnas.
Seorang lelaki berusaha menghindari pertemuan dengan mantan kekasihnya selama 20 tahun. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di perasaannya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui mantan kekasihnya.
Apakah ternyata dia masih memendam rasa cinta, atau hanya ilusi perasaan belaka?

Minggu, 19 Juni 2022

Ulasan Novel Biografi Rahmah El Yunusiyyah: Perempuan Yang Mendahului Zaman

Judul: Rahmah El Yunusiyyah: Perempuan yang Mendahului Zaman
Penulis: Khairul Jasmi
Penerbit: Republika
Tahun Terbit: 2020
Jumlah halaman: xii + 231


Beliau sering mengatakan, "Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki atau perempuan." (Jasmi, hlm.196)

Novel biografi ini ditulis oleh Khairul Jasmi, seorang penulis dan juga seorang wartawan senior. Seperti buku biografi lainnya, KJ melakukan banyak riset untuk menunjang isi buku ini. Saking banyaknya, ucapan terima kasih buku ini mencapai enam halaman. Isinya kurang lebih ucapan terima kasih KJ kepada seluruh narasumbernya yang telah banyak memberi sumbangsih selama penggarapan buku ini. Dengan banyaknya riset yang dilakukan KJ, novel biografi ini tidak perlu diragukan lagi keabsahannya. 

Novel biografi ini berisi kisah Rahmah El Yunusiyyah mulai dari beliau lahir hingga beliau wafat. Rahmah El Yunusiyyah merupakan tokoh perempuan yang hidup pada masa kolonial hingga kemerdekaan diraih Indonesia. Beliau terkenal sebagai tokoh perempuan yang sangat peduli pada agama dan pendidikan para perempuan khususnya di Minangkabau.

Novel ini berfokus pada kisah perjuangan Etek Amah (sapaan akrab beliau) dalam membangun sekolah Diniyyah Puteri, membela hak perempuan, pun membantu kemerdekaan Indonesia. Dalam perjuangan tersebut banyak masalah dan rintangan yang beliau hadapi mulai dari biaya, kesetaraan gender, stereotip masyarakat, ditambah pengawasan dari penjajah pada masa itu. Namun beliau tidak pernah lelah dan terus berusaha hingga rela berkeliling Indonesia sampai ke Malaysia untuk berdakwah dan membangunan sekolahnya.

Hebatnya lagi, waktu pedudukan Jepang, beliau pernah menjadi ketua Haha No Kai (sebuah organisasi perempuan di Padag Panjang). Pada masa perang kemerdekaan beliau ikut memelopori pembentukan TKR di Padang Panjang (sederhananya TKR itu TNI jaman dulu). Alhasil, Etek Amah pernah didenda, ditangkap, bahkan ditahan penjajah.

Etek Amah diberi gelar syekhah oleh Universitas Al-Azhar, Kairo. Ini gelar guru besar pertama untuk perempuan di dunia. Beliau juga penerima penghargaan Bintang Mahaputra Adiprana dari Presiden Republik Indonesia, SBY pada 13 Agustus 2013. Jika teman-teman ingin tahu alasan pemberian gelar kehormatan tersebut, silakan temukan jawabannya di dalam buku ini! 

Tidak seperti buku biografi lainnya, buku ini menggunakan bahasa yang ringan, mudah dipahami, dan tidak monoton.  Novel biografi ini terasa lebih "menggugah" dan tentu saja tidak membosankan. Karena ini novel biografi seorang tokoh perempuan, tentu saja nilai-nilai feminisme sangat jelas tergambar. Pembaca akan diajak untuk memahami feminisme versi Islam itu bagaimana. Jika bisa disimpulkan secara sederhana, mungkin feminisme di sini "bebas tetapi tidak melupakan kodrat". 

Melalui novel biografi ini kita pun diajak untuk megamati bagaimana  pola pikir orang-orang jaman dahulu,  posisi wanita di dalam masyarakat, dan perjuangan seorang wanita dalam mempertahankan prinsipnya di masa itu. Sehingga semua pembaca buku ini pasti setuju dengan pendapat bahwa Etek Amah sungguh seorang wanita yang cerdas dan pola pikir beliau sangatlah luar biasa. Mungkin itulah sebabnya buku ini diberi judul perempuan yang mendahului zaman.

Seperti tokoh-tokoh hebat lainnya yang mengabadikan diri melalui tulisannya, di dalam buku ini tidak dijelaskan apakah Etek Amah pernah menulis buku atau tidak. Hal itulah yang saya sayangkan. Selanjutnya, dalam novel biografi ini cukup banyak nama tokoh/sejarawan yang wara-wiri tetapi tidak dijelaskan siapa beliau dan apa hubungan para tokoh tersebut dengan Etek Amah. Jika saya ingin tahu siapa tokoh tersebut, saya harus berhenti membaca kemudian mencari tahu di google terlebih dahulu. Itu cukup mengganggu.

Mengingat bahasanya yang ringan, novel biografi ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan. Namun saya sangat merekomendasikan buku ini untuk para perempuan muslimah karena Etek Amah bisa dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan kita. 

Jika teman-teman masih ragu untuk membeli atau membaca buku ini, teman-teman bisa membaca pratinjau buku ini secara gratis di google book terlebih dahulu. :)

Pengulas: Nendi Dwi Wahyuni dan Riska Mulyani

Sabtu, 19 Maret 2022

Resensi Novel Bila Malam Bertambah Malam Karya Putu Wijaya


Judul: Bila Malam Bertambah Malam
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 2007
Edisi Elektronik: 2018

Bila Malam Bertambah Malam merupakan karya pertama Putu Wijaya yang saya baca. Saya ingat betul bahwasanya nama Putu Wijaya sering disebut dalam beberapa mata kuliah kesusastraan. Membaca karya Putu Wijaya seperti menu wajib bagi peminat sastra. Dan ya, baru tahun ini saya kesampaian membaca karya beliau, sedikit informasi, saya membaca buku ini melalui aplikasi ipusnas, sebuah aplikasi perpustakaan yang dikelola langsung oleh perpustakaan nasional. Di sana banyak sekali buku-buku dengan berbagai kategori. Selayaknya perpustakaan, kamu bisa meminjam buku apa saja yang tersedia di aplikasi ini dan itu GRATIS.

Bila Malam Bertambah malam dibuka dengan Gusti Biang yang menanti kepulangan putra satu-satunya, I Gusti Ngurah. Sepenantiannya itu, Gusti Biang yang merasa terintimidasi oleh Nyoman semakin menunjukkan ‘taringnya’ di rumah itu. Gusti Biang merupakan seorang bangsawan yang kolot, keras kepala, dan menjunjung tinggi kasta serta status kebangsawanannya.  Umurnya sekitar tujuh puluh tahun  dan ia seorang janda.  Di rumahnya, Gusti Biang hidup bersama Nyoman, pembatu perempuannya dan Wayan, seorang lelaki tua yang setia mengabdi di rumah itu sekaligus sahabat mendiang suami Gusti Biang.  

Konflik dalam buku ini berputar di antara keempat tokoh tadi. Gusti Biang yang hidup dengan arogansinya sering berlawanan dengan Nyoman, seorang gadis cantik yang merasa kemerdekaannya telah terenggut sejak lama. Begitu pula dengan Wayan, mantan pejuang yang memiliki banyak rahasia di hidupnya serta Ngurah yang akan pulang dari Jawa, di mana kepulangannya menjadi puncak permasalahan dalam novel ini.

Novel ini mengambil latar Bali sekitar tahun 1950—1960-an. Kisah dalam novel ini dimulai saat petang hari dan berakhir saat tengah malam. Mungkin itulah kenapa novel ini diberi judul Bila Malam Bertambah Malam. Melalui novel ini dapat kita ketahui bahwa pada masa itu masyarakat Bali sangat berpegang teguh kepada kasta mereka. Kasta tertinggi merasa berhak melakukan apapun kepada orang dengan kasta di bawahnya. Begitu pula sebaliknya, orang dengan kasta terendah harus bisa menerima dan sabar terhadap segala perlakuan orang-orang dengan kasta tinggi. Namun, di antara masyarakat itu juga terdapat orang-orang yang berpikiran maju dan terbuka, bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dan tidak terikat dengan kasta. Sepertinya itulah yang ingin disampaikan Putu Wijaya melalui novel ini bahwa kita haruslah berpikiran terbuka dan menerima segala perubahan yang telah terjadi.

Saat membaca bagian awal novel ini  saya cukup bosan tapi semakin dibaca saya menyadari bahwa ada satu daya tarik yang membuat saya ingin melanjutkan novel ini hingga selesai.  Daya tarik itu terletak pada tokoh-tokoh novel ini. Selama membaca novel ini saya banyak merenung karena tokoh Gusti Biang. Saya takut menjadi tua dan menyebalkan seperti tokoh Gusti Biang dalam novel ini.

Bila Malam Bertambah Malam memiliki alur yang ringkas, tidak bertele-tele, dan sebenarnya bisa selesai dalam sekali duduk karena cukup singkat untuk kategori novel. Di samping itu, novel ini memliki plot twist yang sebenarnya sudah bisa ditebak oleh para pembaca. Walaupun pada bagian akhir buku ini terdapat glosarium, sebagai pembaca yang bukan orang Bali, saya masih kesulitan memahami beberapa kata yang digunakan dalam novel ini. Meski begitu novel ini tetap menarik untuk dibaca pecinta sastra. Buku ini juga dapat dijadikan referensi bagi penulis pemula yang ingin memberi kesan kuat pada tulisannya.

Jumat, 04 Maret 2022

Ulasan Novel Janji Karya Tere Liye

Judul: Janji
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Tahun Terbit: 2021

Novel janji merupakan karya ke-48 Tere Liye. Siapa yang tidak kenal dengan Tere Liye? Penulis yang bukunya selalu best seller walau gak pakai tulisan best seller di kovernya. Penulis yang bukunya selalu ditunggu-tunggu penggemarnya dan selalu dicetak ulang bahkan sampai puluhan kali. Oh iya, novel janji ini diterbitkan oleh Sabak Grip Nusantara. Jadi, buku-buku Tere Liye yang terbaru itu diterbitkan Sabak Grip, bukan Gramedia lagi. Katanya sih itu penerbit milik Tere Liye sendiri tapi belum ada fakta yang mendukung pernyataan itu.

Isi cerita novel Janji ini bisa dibilang gabungan tiga novel Tere Liye sebelumnya. Pertama, novel Tentang Kamu karena sama-sama menelusuri perjalanan hidup seseorang; kedua, novel Rindu karena sama-sama punya banyak perubahan dengan sikap tokoh utama; dan  ketiga novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karena sama-sama mencari jawaban atas pertanyaan tentang kehidupan. Karena gabungan dari tiga novel yang keren, bisa dibilang novel Janji ini kerennya triple.

Janji dibuka dengan cerita kejailan Tiga Sekawan (Baso, Hasan, dan Kaharudin) yang menambahkan garam ke dalam teh calon presiden yang mengunjungi sekolah mereka. Karena geram, mereka pun dihukum oleh Buya (pemilik sekolah sekaligus ulama termasyhur) untuk mencari Bahar, mantan siswa nakal di sekolah agama tersebut. Bahar merupakan tokoh utama novel ini, pencarian Bahar dilatarbelakangi mimpi luar biasa yang dialami ayah Buya. Selama pencariannya, Tiga Sekawan bertemu dengan orang-orang luar biasa dan mendapatkan petualangan seru. Karena jalan pikir anak-anak nakal itu sepertinya sama, akhirnya Tiga Sekawan berhasil menemukan simpul-simpul tentang kehidupan Bahar. Kisah hidup Bahar sangat mengharukan dan penuh pesan. Intinya, di mana Bahar menetap, di situ terjadi perubahan yang baik dengan lingkungannya.

Namun sayang, perubahan karakter Tiga Sekawan kurang menonjol di novel ini. Meski sudah mendengar cerita dari orang yang mengenal Bahar, Tiga Sekawan tidak begitu menunjukkan perubahan sikap yang menonjol. Meski pada akhirnya mereka bertiga tidak jadi keluar dari sekolah agama tersebut.

Seperti karya Tere Liye lainnya, novel Janji ini disajikan secara detail dan apik, sehingga pembaca dapat memahami dengan baik setiap kisah yang disajikan.  Di samping itu, novel ini punya banyak sekali pesan tentang kehidupan. Kisah Bahar dalam novel ini benar-benar bikin nangis terisak tapi sesekali juga bikin ketawa. Membaca novel setebal 486 halaman ini tidak akan terasa karena memang seseru itu cerita yang disajikan.

Secara keseluruhan, novel ini  sangat cocok dibaca semua orang baik muslim maupun yang non muslim. Melalui novel ini kita belajar bahwa dari Bahar yang memiliki banyak kelemahan pun masih bisa menjadi manusia yang bermanfaat dan membekas di hati setiap orang yang mengenalnya.  Bagaimanakah dengan kita?

“Tunaikan janjimu. Aku tahu kau akan selalu menepati janji.”-Tere Liye

Pengulas: Nendi Dwi Wahyuni dan Riska Mulyani

Ulasan Novel The White Masai: Kisah Nyata tentang Dua Insan Berbeda Ras yang Bersatu karena Cinta Karya Corinne Hofmann

Judul: The White Masai
Penulis: Corinne Hofmann
Penerbit: Pustaka Alvabet
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Tahun Terbit: 2010

Alasan pertama saya membaca buku ini karena pada kover buku ini terdapat tulisan terjual lebih dari 4 juta eksemplar dan telah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa. Saya yakin bukan hanya saya yang ingin membaca novel ini karena "tulisan" itu. The White Masai ini merupakan buku pertama Corinne Hofmann yang populer dan merupakan novel yang diangkat dari kisah hidupnya sendiri. 

Novel ini dimulai ketika Corinne berlibur ke Kenya bersama Marco, kekasihnya pada tahun 1986. Di sanalah ia bertemu dengan Lketinga, seorang pria suku Masai. Dilihat dari tingkahnya, Corinne telah jatuh cinta kepada Lketinga pada pandangan pertama. Ia mulai terobsesi dengan Lketinga hingga ia memutuskan hubungan dengan kekasihnya, Marco. Corinne pun memutuskan pindah dari Swiss dan menetap di Kenya pada tahun 1987. Pada tahun itu pula Corinne menikah dengan Lketinga dan petualangan Corinne sebagai istri seorang Masai pun dimulai. Sungguh suatu perjalanan yang tidak mudah, menginat bahwa Corinne seorang wanita Eropa modern  harus menjalani kehidupan sebagai istri dari seorang Masai yang mempunyai peradaban dan budaya yang jauh berbeda. Kurang lebih empat tahun Corinne bertahan merasakan manis getir kehidupan perkawinan bersama Lketinga.

Corinne mengisahkan dirinya dengan begitu sederhana dan apa adanya. Kemandirian dan kekuatan prinsip yang dimiliki Corinne membawanya menemui Lketinga, di pedalaman Barsaloi, Kenya. Sebagai wanita berkulit putih dengan latar belakang yang berbeda dengan suku Masai membuat Corinne harus mengikuti adat istiadat dan budaya di tempat dia berada. Tak hanya itu. Birokrasi di Kenya juga memaksanya untuk tetap bertahan dengan pilihannya agar bisa menikah dengan kekasihnya. Meski sudah memiliki anak, perbedaan antara Corinne dan Lketinga tetap tak dapat melebur. Seperti kisah cinta lainnya, konflik-konflik selalu terjadi. Namun dari semua rentetan cerita tersebut, kegigihan, konflik batin, serta kehidupan di Barsaloi adalah garis besar yang membuat pembaca ikut menyelami kehidupan seorang Corinne Hofmann.

Sebagai pembaca, saya kagum dengan cara Corinne menceritakan kisahnya. Banyak ilmu dan pengetahuan yang didapatkan setelah membaca novel ini terutama terkait kebudayaan masyarakat pedalaman Kenya. Saya tidak dapat berhenti membaca buku ini karena penasaran bagaimana akhir kisah ini. Awalnya saya pikir kisah dalam novel ini terlalu mendramatisir kehidupan yang dialami Corinne. Namun, setelah membaca lebih jauh, saya paham bahwa perbedaan adat, budaya, dan pola pikirlah yang menjadi muara dari segala konflik dalam kisah ini.  Tebakan saya pun benar, kisah dalam buku ini berakhir sesuai prediksi saya dan mungkin hampir semua pembaca novel ini. Meski begitu, saya salut dengan ketangguhan Corinne karena ia sanggup bertahan sejauh itu.

Bagi penikmat buku dengan kisah cinta penuh petualangan dan perjuangan, buku “The White Masai” sangat saya rekomendasikan. Meski buku ini telah lama terbit, saya pikir tidak ada kata terlambat untuk membaca buku ini. Pada akhirnya, para pembaca akan menyadari, kenapa buku ini terjual lebih dari 4 juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam 33 bahasa.

“Inilah kisahku selama empat tahun tinggal di pedalaman Kenya. Dengan obsesif, aku mengejar cinta terbesar dalam hidupku dan menjalani manis getirnya kehidupan di sana. Benar-benar sebuah petualangan besar yang mengujiku sampai batas maksimal secara fisik ataupun mental. Namun bagiku, itu juga satu pertarungan mempertahankan hidup yang akhirnya bisa kumenangkan bersama putriku, Napirai.”-Corinne Hofmann

Diulas oleh: Riska Mulyani

Jumat, 25 Februari 2022

Resensi Buku Chairil Anwar: Bagimu Negeri Menyediakan Api Oleh: Riska Mulyani



CHAIRIL YANG TETAP HIDUP 
Judul               : Chairil Anwar: Bagimu Negeri Menyediakan Api
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Tebal               : x + 152 halaman

Siapa yang tak kenal Chairil Anwar  si “Binatang Jalang” yang ingin hidup 1000 tahun lagi, pelopor kesusastraan angkatan 45 yang mendobrak angkatan sebelumnya. Dalam Perayaan tujuh belas agustusan, puisi-puisi cemerlang Chairil selalu dibacakan dari Sabang sampai Merauke. Rasanya tak akan pernah habis pembicaraan tentang Chairil Anwar baik individunya maupun sajak-sajaknya. Chairil seperti bagian dari bangsa Indonesia yang pernah ada, dan terus dirindukan.

Chairil Anwar: Bagimu Negeri Menyediakan Api merupakan hasil penelusuran tim majalah Tempo dalam rangka menyambut hari Kemerdekaan RI tahun 2016. Sama seperti edisi khusus tokoh-tokoh sebelumnya. Buku ini  menceritakan berbagai sisi kehidupan sang tokoh dan juga pandangan dari orang-orang di sekitarnya. 

Buku ini mengungkap kehidupan Chairil Anwar dengan lengkap, mulai dari kehidupan  masa kecilnya di Medan, kepindahannya ke Jakarta, inspirasinya dalam menulis hingga peristiwa kematiannya. Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922 . Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes bin Manam dan Siti Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi kuluar sebelum lulus.
Pada tahun 1942, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Jakarta dan mulai mengenal dunia sastra. Yang membuat Chairil Anwar bersinar adalah kemampuannya melahirkan karya yang tidak sekadar memotret dan menggelorakan jiwa perjuangan kemerdekaan RI, namun juga kemampuannya mengolah bahasa Indonesia, yang pada saat itu belum semaju sekarang. Pada masa ia hidup, bahasa Melayu dan Belanda masih lebih familier digunakan. Kegilaan Chairil terhadap buku sastra dunia dan perjuangannya mencari kata, diksi, bentuk dan isi terbaik dalam lirik-lirik puisinya membuat karyanya menjadi unggul dan berbeda dari karya-karya Angkatan Pujangga Baru saat itu.
Mengenai puisi-puisi perjuangannya, ia tidak hanya merenung dan berimajinasi di balik meja saja, melainkan terlibat langsung dalam pertempuran yang kemudian dituangkannya ke dalam sajak. Hal ini dapat dilihat dari salah satu puisinya yang berjudul “Krawang-Bekasi”, “Persetujuan dengan Bung Karno”, “Aku” dan “Diponegoro”. Selain puisi perjuangan, ada juga puisi-puisi cinta yang terinspirasi dari beberapa perempuan yang pernah singgah dihidupnya.
Chairil Anwar meninggal pada tanggal 28 April 1949, karena penyakit tifus, infeksi dan usus pecah. Chairil dimakamkan di Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. Chairil mati muda pada usia 27 tahun dan sejarah akan terus mencatat, ia seorang pemberontak yang tak beranjak tua. Mati muda telah mengekalkan imaji dirinya selaku pemberontak terhadap adat-istiadat, nilai, dan kemapanan Pujangga Baru. Walau telah tiada, sampai hari ini Chairil adalah sebuah inspirasi. Inspirasi tentang bagaimana seorang pengarang menciptakan karakter bahasa yang mampu menembus dominasi bahasa pejabat, bahasa politikus, bahasa pengacara dan bahasa preman sekaligus.
Buku ini disarankan untuk mahasiswa yang belajar kesusastraan, dan juga tenaga edukatif untuk menambah referensi dalam proses pembelajaran serta khalayak umum yang ingin lebih tahu lebih dalam tentang Chairil Anwar. Terlepas dari pemaparan orang-orang di sekitar Chairil yang terlalu luas, dan sering terjadi pengulangan informasi di beberapa bagian, buku ini bagus untuk dibaca karena disajikan dengan bahasa yang ringan, dilengkapi foto dan gambar, serta beberapa karya Chairil yang terkenal serta beberapa tulisan lain yang belum pernah terbit sebagai kumpulan puisi. Sampul buku yang sederhana namun terkesan mendalam menjadi nilai tambah buku ini.

    Resensiator: Riska Mulyani
    Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia TM 2015

Cari Blog Ini